Ava tidak memahami dunia dengan bahasa orang dewasa yang sudah mapan. Ia bertanya, mencari arti kata, membandingkan kejadian, lalu menyusun kesimpulan sendiri. Cara itu kadang lucu, tetapi juga membongkar kebohongan yang sengaja atau tidak sengaja disembunyikan orang dewasa. Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, pertanyaan anak bukan hiasan narasi. Ia adalah alat untuk menguji keluarga, hukum, uang, kekerasan, dan gagasan tentang kebahagiaan.
Karena itu, kabar tentang 12 Pesan Suara Anak Indonesia yang dibacakan pada puncak Hari Anak Nasional ke-42 di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada 23 Juli 2026, perlu dibaca lebih serius daripada sebagai seremoni tahunan. Dua belas pesan itu memuat tuntutan tentang identitas, pendidikan merata, pencegahan pekerja anak, perlindungan digital, ruang pendapat, pencegahan perkawinan anak, hingga keterlibatan Forum Anak dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan. Pemerintah menyatakan pesan tersebut akan menjadi rujukan strategis kebijakan perlindungan anak. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id)
Masalahnya bukan apakah anak-anak sudah diberi mikrofon. Masalahnya adalah apakah suara itu memperoleh kewenangan untuk mengubah keputusan.
Ava mengajarkan bahwa bertanya adalah bentuk pengetahuan
Ava kerap mencari arti kata karena dunia di sekelilingnya tidak menyediakan penjelasan yang jujur dan mudah dipahami. Ia menelusuri makna “judi”, “hukum”, “legal”, “cerai”, bahkan “bahagia”, sebab istilah-istilah itu hadir sebagai akibat langsung dalam hidupnya. Orang dewasa berbicara tentang uang, warisan, pindah rumah, atau perpisahan, sementara anak harus menebak-nebak dampaknya terhadap dirinya sendiri.
Di sinilah hubungan pertama dengan 12 Pesan Suara Anak menjadi penting. Pesan tersebut menunjukkan bahwa anak bukan sekadar penerima kebijakan, melainkan pihak yang mampu merumuskan persoalan publik. Mereka tidak hanya meminta perlindungan dari kekerasan, tetapi juga identitas hukum, fasilitas inklusif, pendidikan yang adil, literasi digital, dan ruang untuk menyampaikan pendapat. Daftar itu memperlihatkan kemampuan anak menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan struktur negara.
Namun, pengakuan terhadap kemampuan bernalar anak harus mengubah cara kerja pemerintah. Jika anak meminta ruang pendapat, negara tidak cukup mengundang mereka ke panggung. Pemerintah perlu menjelaskan keputusan apa yang berubah setelah forum itu berlangsung, siapa yang bertanggung jawab, berapa anggarannya, dan kapan hasilnya dapat diperiksa. Tanpa jawaban semacam itu, partisipasi mudah berubah menjadi pertunjukan yang menyenangkan orang dewasa tetapi tidak menambah daya tawar anak.
Dari rumah yang menakutkan ke sekolah yang dijanjikan aman
Dalam kisah Ava dan Pepper, rumah tidak otomatis berarti perlindungan. Rumah dapat berisi teriakan, pukulan, ketakutan, dan keputusan sepihak. Anak dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain tanpa benar-benar diberi penjelasan. Bahkan ketika ada orang dewasa yang berusaha menolong, keselamatan anak tetap rapuh karena tidak ditopang sistem yang konsisten.
Hubungan kedua tampak pada janji pemerintah untuk membangun sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif. Pada Juli 2026, pemerintah meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak di satuan pendidikan, dengan penekanan pada perlindungan fisik, psikologis, sosial, dan digital. Pemerintah juga menyatakan bahwa sekolah harus menjadi ruang belajar yang bebas dari kekerasan dan perundungan. (kemendikdasmen.go.id)
Janji ini relevan karena sekolah dapat menjadi ruang koreksi ketika keluarga gagal menjalankan fungsi perlindungan. Tetapi sekolah tidak akan aman hanya karena spanduk, deklarasi, atau kegiatan pengenalan lingkungan yang ramah. Anak membutuhkan saluran pengaduan yang mudah ditemukan, pendamping yang dipercaya, prosedur yang tidak menyalahkan korban, dan kepastian bahwa laporan tidak berakhir dengan pemindahan anak atau perdamaian paksa.
Jika 12 pesan anak benar-benar dijadikan rujukan, maka ukuran keberhasilan sekolah aman harus mencakup pengalaman murid: apakah mereka berani melapor, apakah laporan ditangani, apakah pelaku dikenai tindakan yang tepat, dan apakah korban tetap dapat belajar tanpa stigma. Suara anak tidak boleh hanya dipakai untuk mengesahkan program yang sudah dirancang sebelumnya.
“Sekolah aman” harus dapat diperiksa oleh anak
Hubungan ketiga terletak pada perbedaan antara suara yang dibacakan dan suara yang memiliki daya pengawasan. Dalam ‘Di Tanah Lada’, Ava dan Pepper terus mengamati perilaku orang dewasa. Mereka mungkin belum memahami seluruh istilah hukum atau ekonomi, tetapi mereka tahu kapan sebuah rumah terasa dingin, kapan orang dewasa berbohong, dan kapan rasa takut dipaksakan sebagai kasih sayang.
Begitu pula anak-anak yang menyampaikan 12 pesan itu. Mereka berbicara tentang perundungan, diskriminasi, teknologi, pendidikan, dan perlindungan khusus bukan karena membaca laporan kebijakan, melainkan karena persoalan tersebut hadir dalam kehidupan mereka. Negara boleh menerjemahkan tuntutan itu ke dalam program, tetapi tidak boleh menghapus pengalaman asalnya.
Pemerintah telah menyebut partisipasi aktif Forum Anak dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan daerah sebagai salah satu dari 12 pesan tersebut. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id) Frasa “evaluasi” di sini sangat menentukan. Anak perlu dilibatkan bukan hanya sebelum program dimulai, tetapi juga setelah program berjalan. Mereka harus dapat mengatakan bahwa ruang kelas masih tidak aman, bahwa kanal pengaduan tidak berfungsi, atau bahwa kebijakan pembatasan gawai justru menyulitkan anak dengan kebutuhan tertentu.
Evaluasi semacam itu menuntut keberanian negara untuk menerima kritik dari anak. Jika semua suara hanya dipuji ketika selaras dengan pidato resmi, maka yang berlangsung bukan partisipasi, melainkan penyesuaian anak terhadap bahasa pemerintah.
Dari seremoni menuju kewajiban
Peringatan Hari Anak Nasional dapat menjadi pintu masuk yang penting. Pemerintah telah mendengar 12 pesan, menyatakan komitmen terhadap sekolah aman dan inklusif, serta menempatkan aspirasi anak sebagai rujukan strategis. Tetapi kata “mendengar” memiliki konsekuensi. Ia menuntut catatan tindak lanjut, target yang terbuka, pembagian tanggung jawab, anggaran, dan laporan berkala yang dapat dipahami anak.
Pelajaran utama dari ‘Di Tanah Lada’ bukan bahwa anak selalu benar atau orang dewasa selalu gagal. Pelajarannya adalah bahwa anak memiliki pengetahuan yang sering muncul dari posisi paling rentan. Mereka melihat akibat keputusan orang dewasa sebelum para pengambil keputusan bersedia mengakuinya.
Maka, 12 pesan itu seharusnya tidak disimpan sebagai dokumen peringatan. Ia harus menjadi daftar pertanyaan yang terus diajukan kepada negara: apa yang berubah, di mana perubahan itu terjadi, siapa yang terlindungi, dan siapa yang masih menunggu? Selama anak belum dapat memeriksa jawaban tersebut dalam kehidupan sehari-hari, suara mereka belum benar-benar didengar. Ia baru diperdengarkan.
Sumber
- paudpedia.kemendikdasmen.go.id: Pesan Suara Anak Indonesia Untuk Kabinet Merah Putih Pada Puncak Han Ke 42 Wamen Dikdasmen Tegaskan Komitmen Sekolah Aman Dan Inklusif
- kemendikdasmen.go.id: Hari Anak Nasional 2026 Kemendikdasmen Ajak Anak Kembali Bermain Dan Kurangi Pemakaian Gawai
- kemendikdasmen.go.id: Dukung Masa Depan Anak Indonesia Kemendikdasmen Dan Pemprov Kepri Perkuat Layanan Pendidikan
- kemendikdasmen.go.id: Gerakan Nasional Ruang Aman Dan Nyaman Anak Perkuat Sinergi Perlindungan Anak Di Satuan Pendidikan
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia