Asap sering diperlakukan sebagai gangguan jarak pandang. Pemerintah menghitung titik api, mengukur kualitas udara, menyiapkan masker, lalu mengumumkan bahwa situasi sedang ditangani. Namun, bagi anak, bencana ekologis tidak berhenti pada udara yang kotor. Asap dapat mengubah sekolah menjadi ruang berisiko, memutus rutinitas, memperburuk penyakit, memisahkan keluarga, dan membuat anak semakin bergantung pada keputusan orang dewasa yang belum tentu siap.
Karena itu, dorongan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak agar pemerintah pusat dan daerah memiliki protokol perlindungan anak dalam situasi kebakaran hutan dan lahan patut dibaca lebih serius daripada sekadar tambahan daftar kerja birokrasi. Protokol itu mencakup sistem peringatan dini, pemetaan anak dan kelompok rentan, skenario pembelajaran ketika kualitas udara memburuk, layanan kesehatan, dukungan psikososial, mekanisme rujukan, serta pelibatan Forum Anak. (antaranews.com)
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, persoalan anak selalu berkaitan dengan ruang yang gagal memberi rasa aman. Ava dan Pepper tidak hanya berhadapan dengan orang dewasa yang keliru; mereka juga berhadapan dengan rumah, rusun, jalan, kendaraan, stasiun, dan tempat-tempat singgah yang tidak pernah dirancang berdasarkan kebutuhan mereka. Itulah sebabnya karhutla menjadi cermin yang relevan: bencana memperlihatkan apakah negara sungguh mengenali anak sebagai manusia yang memiliki kebutuhan khusus, atau hanya menghitungnya sebagai bagian dari jumlah penduduk terdampak.
Anak tidak boleh menjadi angka yang hilang dalam keadaan darurat
Salah satu masalah paling mendasar dalam penanganan bencana adalah anggapan bahwa semua warga terdampak membutuhkan hal yang sama. Padahal, anak membutuhkan perlindungan yang lebih terukur: siapa mereka, di mana mereka tinggal, siapa pengasuhnya, apakah mereka memiliki penyakit bawaan, bagaimana akses mereka menuju sekolah, dan kepada siapa mereka dapat meminta pertolongan.
Di Tanah Lada memperlihatkan akibat ketika keberadaan anak tidak tertaut pada sistem tanggung jawab yang jelas. Ava dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tidur dalam koper, kehilangan kasur, dan ikut dalam perjalanan panjang tanpa ada mekanisme yang segera memastikan keselamatannya. Pepper pun hidup dalam ketidakpastian yang serupa. Mereka dikenal oleh orang-orang tertentu, tetapi tidak sepenuhnya dikenali oleh sistem.
Hubungan itu bukan berarti kisah Ava dan Pepper membahas karhutla. Hubungannya adalah perbandingan: ketika anak tidak dipetakan dan tidak ada orang dewasa yang jelas bertanggung jawab, keadaan darurat membuat mereka semakin mudah luput. Dalam konteks asap, anak yang tinggal di wilayah rawan, berada di pengungsian, hidup tanpa pendamping, atau memiliki gangguan pernapasan tidak boleh diperlakukan sebagai titik kecil dalam laporan umum. Mereka membutuhkan daftar, jalur komunikasi, dan rencana perlindungan yang dapat bekerja sebelum keadaan memburuk.
Sekolah bukan fasilitas tambahan, melainkan bagian dari keselamatan
Karhutla juga menguji cara pemerintah memahami pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menerbitkan panduan yang mengaitkan kegiatan belajar dengan kualitas udara, termasuk kemungkinan pembelajaran jarak jauh, penggunaan modul, guru kunjung, dan penyediaan ruang kelas aman asap. Data pemerintah menyebut puluhan ribu satuan pendidikan dan jutaan murid berpotensi terpapar asap. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id)
Kebijakan ini penting karena sekolah bukan sekadar tempat menerima pelajaran setelah masalah kesehatan selesai. Sekolah adalah ruang perlindungan, pengawasan, interaksi, dan kestabilan psikologis. Ketika sekolah ditutup tanpa skenario pengganti, anak bukan hanya kehilangan jam belajar. Mereka juga dapat kehilangan makanan, hubungan dengan guru, akses informasi, dan rutinitas harian.
Di sinilah hubungan kedua dengan buku menjadi terang. Ava dan Pepper terus berusaha memahami dunia melalui kamus, cerita, lagu, dan percakapan. Pengetahuan bagi mereka bukan kemewahan, melainkan cara untuk membaca ancaman dan mengambil keputusan. Maka, pembelajaran dalam situasi karhutla tidak boleh direduksi menjadi tugas yang dikirim melalui telepon. Negara perlu memastikan bahwa anak tetap memperoleh penjelasan yang sesuai usia tentang kualitas udara, cara melindungi diri, perubahan kegiatan, dan tempat meminta bantuan.
Mendengar anak adalah bagian dari kesiapsiagaan
Protokol yang baik tidak berhenti pada pemetaan dan evakuasi. Ia juga harus bertanya: apa yang dirasakan anak, apa yang mereka pahami, dan apa yang mereka butuhkan? Kementerian PPPA menyebut pelibatan Forum Anak sebagai salah satu unsur yang perlu diperkuat dalam protokol perlindungan karhutla. (antaranews.com)
Pelibatan itu tidak boleh menjadi seremoni. Anak tidak cukup diundang untuk berfoto atau mengulang pesan pemerintah. Mereka perlu diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman tentang asap, kesulitan belajar, akses air bersih, rasa takut, dan masalah di tempat pengungsian. Pengetahuan anak tentang lingkungan sehari-hari sering kali lebih rinci daripada yang tercantum dalam peta administratif.
Dalam buku tersebut, kemampuan anak memahami dunia memang kerap muncul melalui cara yang dianggap polos: mencari arti kata, menghubungkan pengalaman, atau menyimpulkan sesuatu dari benda-benda di sekitar. Akan tetapi, kepolosan itu tidak sama dengan ketiadaan pengetahuan. Justru karena mereka mengalami langsung ruang yang tidak aman, suara anak dapat menunjukkan celah yang luput dari perencanaan orang dewasa.
Dari pemadaman api menuju pemulihan anak
Data kesehatan memperlihatkan bahwa karhutla berdampak luas. Kementerian Kesehatan melaporkan jutaan penduduk terdampak di sejumlah provinsi dan ribuan kasus ISPA dalam laporan situasi akhir Agustus 2026. Pemerintah juga menekankan perlindungan ekstra bagi anak dan kelompok rentan. (kemkes.go.id)
Namun, perlindungan tidak boleh berhenti setelah api padam atau udara kembali membaik. Anak mungkin masih mengalami batuk, takut, sulit tidur, tertinggal pelajaran, atau kehilangan rasa aman. Karena itu, dukungan psikososial, rujukan kesehatan, pemulihan pembelajaran, dan pemantauan keluarga harus menjadi bagian dari protokol sejak awal, bukan tambahan setelah krisis dianggap selesai.
Karya tersebut mengingatkan bahwa anak tidak otomatis pulih hanya karena sudah berpindah dari satu tempat berbahaya ke tempat lain. Keselamatan fisik adalah pintu masuk, bukan garis akhir. Pelajaran itu berlaku pula bagi bencana ekologis: mengevakuasi anak dari asap tidak cukup jika negara tidak memastikan mereka kembali belajar, memperoleh layanan kesehatan, didampingi pengasuh yang aman, dan didengar pengalamannya.
Asap memang bergerak tanpa mengenal batas administrasi. Karena itu, perlindungan anak juga tidak boleh terpecah oleh batas kewenangan lembaga. Peta risiko harus bertemu dengan data anak, sekolah harus terhubung dengan layanan kesehatan, dan pemerintah daerah harus memiliki rujukan yang dapat digunakan keluarga. Jika tidak, anak akan kembali menjadi pihak yang paling mudah terlupakan ketika keadaan darurat menuntut keputusan cepat.
Langit yang tertutup asap bukan hanya persoalan lingkungan. Ia adalah ujian atas kemampuan negara melihat siapa yang paling rentan, siapa yang belum mampu menyelamatkan diri sendiri, dan siapa yang suaranya paling mudah tenggelam. Dalam ujian itu, anak tidak boleh sekadar dipindahkan dari bahaya. Mereka harus dikenali, dilindungi, didengar, tetap belajar, dan dipulihkan.
Sumber
- ANTARA News: Koordinasi Pusat Daerah Didorong Pastikan Protokol Perlindungan Anak
- ANTARA News: Kemenpppa Minta Penanganan Karhutla Pertimbangkan Pemenuhan Hak Anak
- setneg.go.id: Tinjau Fasilitas Pendidikan Di Tengah Situasi Karhutla Wapres Pastikan Keselamatan Dan Kesehatan Siswa Jadi Prioritas
- paudpedia.kemendikdasmen.go.id: Keselamatan Murid Korban Karhutla Prioritas Pembelajaran Adaptif Diterapkan Diterbitkan Protokol Darurat Asap Aktifkan Posko Bencana Dan Fleksibilitas Penggunaan Dana Bosbop
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia