Di Tanah Lada
Salva, sering disapa Ava. Namun, Papanya ingin menamainya Saliva, yang berarti ludah, sebab menganggapnya tidak berguna. Dari kamus pemberian Kakek Kia, Ava mencari setiap makna dari kata-kata yang ditemukan sehari-hari. Ketika keluarga Ava pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal, Ava berjumpa dengan P—anak lelaki yang pandai sekali bermain gitar. Perjumpaan Ava dengan P, dan petualangan keduanya akan membawa pembaca ke banyak pojok gelap dan muara yang mengejutkan. Pada edisi kali ini, novel Di Tanah Lada dilengkapi dengan sebuah catatan, banyak ilustrasi, dan satu kemungkinan akhir cerita lain. Prolog: Hari Rabu tanggal 26 Juni 2013. Di berbagai belahan dunia, sekarang, berdasarkan perhitungan cuaca, adalah musim panas. Kecuali di Australia. Tempat aneh itu tidak pernah setuju soal perhitungan cuaca. Mama yang memberitahuku. Katanya, kalau seluruh dunia sedang kedinginan, Aust
-
Ketika Keluarga Gagal Menjadi Rumah: Siapa yang Menjaga Anak?
Rumah dalam banyak cerita sering dianggap sebagai tempat pertama untuk pulang, berlindung, dan percaya. Namun, dalam *Di Tanah Lada*, anggapan itu runtuh sejak halaman-halaman awal. Rusun Nero bukan sekadar latar tempat tinggal, melainkan ruang yang memperlihatkan bagaimana keluarga dapat berubah menjadi sumber ketakutan. Anak tidak hanya kehilangan kamar, kasur, dan kepastian; ia kehilangan keyakinan bahwa orang dewasa di sekitarnya akan melindunginya. Yang menarik, keselamatan anak dalam kisah itu tidak terutama datang dari keluarga inti. Ia justru muncul melalui orang-orang yang berada di pinggir kehidupan keluarga: Si Anak Pengamen, Ibu Penjaga Rusun, Pak Satpam, dan Kak Suri. Mereka bukan penyelamat dalam pengertian
-
Dari Rusun Nero ke Layar Ponsel: Ketika Judi Orang Dewasa Menjadi Bahaya Anak
Ketika bahaya pindah dari warung kopi ke layar ponsel Dalam *Di Tanah Lada*, judi mula-mula tampak sebagai kebiasaan orang dewasa: sesuatu yang dilakukan Papa, dibela dengan alasan mencari uang, lalu dibayar dengan pertengkaran, perpindahan rumah, dan hilangnya rasa aman anak. Namun, di balik perdebatan tentang uang, yang dipertaruhkan sebenarnya bukan hanya harta keluarga. Yang dipertaruhkan adalah masa kanak-kanak. Persoalan itu memperoleh cermin kontemporer ketika pemerintah menyebut hampir 200 ribu anak di Indonesia telah terpapar judi online, termasuk sekitar 80 ribu anak berusia di bawah 10 tahun. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menilai paparan tersebut sebagai ancaman terhadap tumbuh kembang dan
