Ruang Bersama Bukan Sekadar Balai Desa: Anak Harus Punya Jalan Keluar

Written by

in

Ruang Bersama Bukan Sekadar Balai Desa: Anak Harus Punya Jalan Keluar

Anak yang berada dalam bahaya tidak selalu datang ke kantor layanan dengan laporan yang lengkap. Ia bisa muncul di depan gerobak sate, membawa ransel, menghindari telepon orang tua, atau mengaku hendak pergi ke rumah nenek yang alamatnya hanya ditulis di selembar kertas. Orang dewasa mungkin menyebutnya minggat. Anak itu sendiri mungkin hanya tahu satu hal: ia harus menjauh dari tempat yang membuatnya takut.

Itulah sebabnya penandatanganan Surat Keputusan Bersama tiga menteri tentang Ruang Bersama Indonesia pada 14 September 2026 tidak boleh berhenti sebagai kabar tentang program baru. Pemerintah menyatakan RBI akan menjadi konsep pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di tingkat desa serta kelurahan, lalu didorong masuk ke rencana pembangunan dan anggaran daerah 2027. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan agar perlindungan tidak berhenti pada seremonial, melainkan menjadi kewajiban daerah. (antaranews.com)

Pertanyaan terpentingnya sederhana, tetapi menentukan: ketika seorang anak seperti Ava atau Pepper muncul di ruang publik, apakah desa hanya memiliki tempat berkumpul, atau juga memiliki jalan keluar yang benar-benar bekerja?

Dari orang baik ke sistem yang wajib bekerja

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, keselamatan Ava dan Pepper mula-mula tidak datang dari institusi yang rapi. Ia datang dari orang-orang yang kebetulan melihat, mendengar, atau bersedia menolong. Kak Suri membawa Pepper ke rumah sakit. Mas Alri memahami bahwa kekerasan tidak boleh dibalas dengan kekerasan. Bu Tukang Sate melihat dua anak yang hendak tidur di masjid, memberi mereka makan, menyediakan kamar, dan menghubungkan mereka dengan orang dewasa lain.

Jaringan itu menunjukkan kekuatan masyarakat. Namun, sekaligus memperlihatkan kelemahannya. Anak-anak tersebut selamat karena bertemu orang yang tepat pada waktu yang tepat. Bagaimana jika Bu Tukang Sate tidak bertanya? Bagaimana jika Mas Suryo memilih tidak peduli? Bagaimana jika warga menganggap dua anak itu sekadar pembuat masalah?

Di sinilah hubungan pertama antara RBI dan kisah Ava-Pepper menjadi penting. Pemerintah memang ingin mengandalkan potensi lokal di desa dan kelurahan. Akan tetapi, potensi lokal tidak boleh diterjemahkan sebagai kewajiban moral warga untuk selalu menjadi penyelamat. Solidaritas perlu diberi struktur: siapa menerima laporan, siapa memastikan anak tidak dikembalikan ke pelaku, siapa menghubungi layanan kesehatan, siapa mendampingi ke polisi, dan siapa memeriksa keadaan anak setelah keadaan darurat berlalu.

Tanpa pembagian tanggung jawab itu, ruang bersama hanya menjadi nama yang terdengar ramah. Ia mungkin memiliki papan nama, rapat, dan dokumentasi kegiatan, tetapi tidak memiliki keputusan yang dapat menyelamatkan anak.

Rusun Nero mengajarkan bahwa ruang hidup juga menentukan keselamatan

Ruang dalam cerita tersebut tidak pernah netral. Rusun Nero bukan sekadar latar tempat tinggal. Ia adalah lingkungan dengan kekerasan, perjudian, kemiskinan, kamar yang tidak layak, dan orang dewasa yang gagal menjalankan tanggung jawab. Ava bahkan belajar memahami dunia melalui kamus karena kata-kata orang dewasa sering tidak sejalan dengan kenyataan yang ia lihat.

Hubungan kedua dengan RBI terletak pada soal tata kelola ruang. Jika program itu benar-benar berbasis desa dan kelurahan, ukurannya tidak boleh hanya jumlah kegiatan pemberdayaan atau banyaknya pertemuan warga. Ukurannya harus lebih dekat dengan pengalaman anak: apakah ia tahu ke mana harus pergi ketika rumah menjadi berbahaya? Apakah ada orang dewasa yang dapat dipercaya pada malam hari? Apakah tempat aman memiliki kasur, makanan, privasi, dan pendamping? Apakah perpindahan anak tercatat dan diikuti sampai ia memperoleh pengasuhan yang layak?

Pemerintah menyebut perlindungan perempuan dan anak perlu masuk dalam perencanaan serta anggaran daerah 2027. Pernyataan itu penting karena perlindungan tidak mungkin berjalan dengan semangat saja. Rumah aman memerlukan biaya. Pendamping memerlukan pelatihan. Rujukan kesehatan, bantuan hukum, transportasi, dan pemulihan psikologis memerlukan anggaran yang tidak hilang setelah seremoni selesai. (antaranews.com)

Anak tidak boleh dipaksa membuktikan bahwa dirinya cukup menderita sebelum negara menganggap ruang hidupnya bermasalah.

Potensi lokal harus mendengar anak, bukan hanya mengelola warga

RBI juga menghadirkan tantangan ketiga. Pemerintah daerah dapat tergoda mengubah perlindungan anak menjadi urusan pengelolaan komunitas: membentuk kepengurusan, membuat jadwal kegiatan, mengadakan pelatihan, lalu melaporkan jumlah peserta. Padahal, Ava dan Pepper mengajarkan bahwa kebutuhan anak tidak selalu hadir dalam bahasa yang tertib.

Ava bertanya dengan cara yang berputar-putar. Ia salah memahami istilah, menghubungkan kata dengan pengalaman, dan kadang mengambil keputusan yang tampak tidak masuk akal bagi orang dewasa. Pepper menyembunyikan rasa takut dengan diam, bercanda, atau rencana pergi jauh. Jika ruang bersama hanya mau menerima anak yang bisa bercerita secara runtut, banyak anak akan tetap tidak terbaca.

Karena itu, pemberdayaan lokal harus mencakup kemampuan membaca tanda: perubahan perilaku, luka yang tidak dijelaskan, anak yang sering berpindah tempat, ketakutan ketika ponsel berdering, atau keinginan mendadak untuk menjual barang demi pergi. Warga perlu tahu bahwa bertanya bukan berarti menghakimi, dan melapor bukan berarti mencampuri urusan keluarga. Pada saat yang sama, negara harus memastikan laporan tidak membuat anak menanggung risiko baru.

Kisah Bu Tukang Sate menunjukkan betapa pentingnya ruang ekonomi sehari-hari dalam perlindungan. Namun, kebaikan hati penjual makanan tidak boleh menjadi satu-satunya sistem. Ia harus memiliki saluran yang mudah diakses untuk meminta bantuan, tanpa harus menguasai istilah hukum atau prosedur birokrasi.

Jalan keluar harus lebih kuat daripada pintu masuk

Ruang Bersama Indonesia akan berarti jika ia mampu menjawab apa yang terjadi setelah anak ditemukan. Menyediakan tempat sementara bukan akhir. Anak perlu dipastikan memperoleh identitas, layanan kesehatan, pendidikan, pengasuhan, dan hubungan keluarga yang aman. Ia juga perlu diberi penjelasan tentang keputusan yang menyangkut hidupnya.

Dalam kisah tersebut, Ava dan Pepper tidak hanya membutuhkan orang yang membawa mereka menjauh dari kekerasan. Mereka membutuhkan orang yang mampu menjelaskan ke mana mereka pergi, mengapa harus pergi, dan apakah tempat baru itu sungguh aman. Di situlah perlindungan berubah dari pertolongan sesaat menjadi tanggung jawab publik.

Pemerintah sudah memberi RBI dasar kebijakan dan arah penganggaran. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap desa dan kelurahan tidak sekadar memiliki ruang, melainkan memiliki prosedur yang dapat diuji: jalur pengaduan, petugas yang terlatih, rujukan lintas layanan, perlindungan kerahasiaan, dan mekanisme untuk meminta pertanggungjawaban ketika anak kembali diabaikan.

Anak tidak membutuhkan balai desa yang hanya terbuka pada jam kerja. Ia membutuhkan masyarakat yang tahu kapan harus mendekat, negara yang tahu kapan harus mengambil alih, dan sistem yang tidak membiarkannya berjalan sendirian menuju malam. Ruang bersama baru layak disebut perlindungan jika setiap anak yang masuk ke dalamnya benar-benar memiliki jalan keluar.

Sumber