Rumah Layak Huni Harus Menyediakan Ruang untuk Menjadi Anak

Written by

in

Rumah sering dibicarakan melalui benda-benda yang mudah dihitung: atap, lantai, dinding, kamar mandi, atau luas bangunan. Ukuran itu penting, tetapi belum lengkap. Sebuah rumah baru benar-benar layak ketika anak yang tinggal di dalamnya dapat tidur tanpa takut, mandi tanpa terancam penyakit, memiliki batas pribadi, dan tidak dipaksa menjadikan ruang sisa sebagai tempat tumbuh.

Persoalan tersebut terlihat dalam program perbaikan empat Rumah Tidak Layak Huni di Kota Yogyakarta pada 6 September 2026. Program yang didukung pemerintah, perusahaan, dan gotong royong warga itu tidak hanya menyasar bangunan yang rusak. Pemerintah kota juga menemukan rumah dengan kamar yang belum terbentuk baik, dapur yang menyatu dengan ruang tamu, serta kamar mandi yang masih menyatu dengan kandang ayam. Perbaikan kemudian diarahkan pada kamar, dapur, kamar mandi, sanitasi, dan pemisahan kandang hewan. (warta.jogjakota.go.id)

Berita itu penting bukan karena empat rumah tersebut dapat dianggap mewakili semua persoalan hunian. Nilainya terletak pada pengakuan bahwa rumah tidak layak bukan sekadar rumah yang bocor. Ia juga dapat menjadi rumah yang tidak memiliki batas, tidak memiliki privasi, dan tidak mampu memisahkan kebutuhan manusia dari sumber kotoran atau bahaya.

Rumah yang kuat belum tentu menjadi rumah yang aman

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Rusun Nero hadir sebagai tempat yang secara fisik dan emosional jauh dari gambaran rumah aman. Ava melihat kecoa, tikus, lumut, jamur, asap knalpot, dan bekas pembakaran sampah. Ruang tempat tinggal itu bukan hanya kurang nyaman. Ia membentuk cara seorang anak membaca dunia: rumah menjadi tempat yang harus diwaspadai, bukan tempat untuk memulihkan diri.

Di sinilah berita dari Yogyakarta berhubungan langsung dengan gambaran tersebut. Sebuah rumah dapat memiliki kerangka yang masih berdiri, tetapi tetap gagal menjadi hunian karena ruang-ruang pentingnya tidak tertata. Kamar mandi yang berdampingan dengan kandang ayam bukan hanya persoalan tata letak. Bagi anak, keadaan itu menyangkut bau, kuman, rasa jijik, kemungkinan penyakit, dan hilangnya batas antara tempat hidup manusia dengan tempat hewan dipelihara.

Karena itu, istilah “bedah rumah” harus dibaca lebih kritis. Jika renovasi hanya memperbaiki bagian yang terlihat dari luar, negara mungkin berhasil memperbaiki bangunan tanpa benar-benar memperbaiki pengalaman orang yang tinggal di dalamnya. Rumah yang sehat harus memungkinkan anak mengenali perbedaan antara tempat makan, tidur, mandi, bermain, dan membuang kotoran. Batas-batas itu bukan kemewahan arsitektur. Ia adalah pelajaran pertama tentang keselamatan.

Tempat tidur bukan ruang sisa bagi anak

Masalah yang lebih tajam muncul ketika membaca pengalaman Ava di Rusun Nero. Ia terbangun di kamar mandi setelah pertengkaran orang tuanya, lalu menghadapi kemungkinan tidur di dalam koper karena belum memiliki kasur. Ruang tidur, dalam pengalaman itu, tidak tersedia sebagai hak yang sudah semestinya. Anak harus menunggu, memohon, dan menerima janji bahwa besok akan ada kasur.

Adegan tersebut memberi ukuran yang lebih manusiawi terhadap berita tentang rumah yang kamarnya belum terbentuk dengan baik. Kamar anak tidak boleh diperlakukan sebagai bagian tambahan setelah atap selesai, dinding berdiri, dan kamar mandi dapat digunakan. Tidur adalah kebutuhan biologis, tetapi tempat tidur juga merupakan ruang untuk mengembalikan rasa memiliki. Anak perlu tahu di mana ia dapat meletakkan tubuhnya setelah seharian menghadapi dunia.

Di rumah yang sempit, tentu tidak semua keluarga dapat menyediakan kamar terpisah bagi setiap anak. Namun, keterbatasan luas tidak boleh menjadi alasan untuk menghapus privasi sepenuhnya. Sekat, pencahayaan, ventilasi, tempat menyimpan barang, kasur yang layak, serta aturan agar ruang tidur tidak terus-menerus berubah menjadi ruang konflik adalah bagian dari perlindungan. Yang harus diukur bukan apakah rumah tampak luas, melainkan apakah anak memiliki tempat yang dapat ia kenali sebagai miliknya.

Ketika rumah tidak memberi batas, konflik orang dewasa masuk ke tubuh anak

‘Di Tanah Lada’ juga memperlihatkan bahwa rumah dapat menjadi ruang kekerasan bahkan ketika keluarga masih tinggal di bawah satu atap. Ava mendengar pertengkaran Papa dan Mama, menyaksikan dorongan dan tamparan, lalu mengunci diri di kamar mandi. Ruang yang semestinya digunakan untuk membersihkan tubuh berubah menjadi tempat perlindungan darurat.

Hubungan ini tidak berarti setiap rumah tidak layak huni pasti menjadi lokasi kekerasan. Namun, ia menunjukkan bahwa kualitas fisik rumah dan perlindungan psikologis anak tidak dapat dipisahkan begitu saja. Rumah tanpa sekat, tanpa ruang tenang, atau tanpa tempat berlindung membuat anak semakin mudah terseret ke dalam konflik orang dewasa. Ia mendengar semua suara, melihat semua gerakan, dan membawa ketegangan itu ke waktu tidur.

Maka, perbaikan rumah perlu memiliki pertanyaan yang lebih luas: apakah anak punya ruang untuk menenangkan diri? Apakah pintu dapat dikunci atau setidaknya ditutup dengan aman? Apakah ia dapat mandi tanpa berhadapan dengan kandang, barang berbahaya, atau orang dewasa yang lalu-lalang? Apakah keluarga memahami bahwa anak membutuhkan jarak dari pertengkaran, bukan sekadar atap di atas kepala?

Keberhasilan renovasi harus diukur dari pengalaman anak

Program di Yogyakarta menunjukkan arti penting kolaborasi. Pemerintah, dunia usaha, perangkat daerah, dan warga dapat mempercepat perbaikan rumah, terutama ketika kebutuhan jauh lebih besar daripada kemampuan satu lembaga. Namun, gotong royong tidak boleh membuat tanggung jawab negara menghilang. Sumbangan dapat membangun kamar mandi, memperbaiki atap, atau memisahkan kandang; negara tetap harus memastikan standar kelayakan, pengawasan, dan keberlanjutan pemeliharaannya. (warta.jogjakota.go.id)

Ukuran akhirnya harus dikembalikan kepada penghuni paling rentan. Apakah anak tidak lagi tidur di ruang yang semestinya bukan tempat tidur? Apakah ia dapat belajar tanpa duduk di tengah dapur dan ruang tamu? Apakah kamar mandi bersih dan terpisah dari sumber pencemaran? Apakah ia memiliki ruang menyimpan pakaian, buku, dan benda-benda yang membuatnya merasa memiliki rumah?

Rumah layak huni bukan rumah yang sekadar berhasil direnovasi. Ia adalah rumah yang tidak memaksa anak menyesuaikan tubuhnya dengan kegagalan tata ruang orang dewasa. Atap memang harus diperbaiki. Lantai harus aman. Kamar mandi harus sehat. Tetapi pekerjaan belum selesai sampai anak dapat tidur, bernapas, mandi, bermain, dan merasa terlindungi di dalamnya. Sebab bagi anak, rumah bukan hanya tempat untuk tinggal. Rumah adalah tempat pertama untuk belajar bahwa dirinya pantas memiliki ruang.

Sumber