{"id":78,"date":"2026-09-30T01:31:05","date_gmt":"2026-09-30T01:31:05","guid":{"rendered":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=78"},"modified":"2026-09-30T01:31:05","modified_gmt":"2026-09-30T01:31:05","slug":"konseling-keluarga-harus-mencegah-anak-menjadi-penerjemah-konflik-orang-dewasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=78","title":{"rendered":"Konseling Keluarga Harus Mencegah Anak Menjadi Penerjemah Konflik Orang Dewasa"},"content":{"rendered":"<p>Rumah tangga sering dinilai dari hal-hal yang mudah dicatat: ada atau tidaknya perkawinan, lengkap atau tidaknya dokumen, berlangsung atau tidaknya bimbingan pranikah. Namun, kehidupan anak tidak berjalan di dalam kolom administrasi. Ia berlangsung di antara suara orang dewasa yang bertengkar, pintu yang ditutup, janji yang berubah, dan pertanyaan yang tidak pernah dijawab dengan jelas.<\/p>\n<p>Karena itu, rencana Kementerian Agama memperkuat Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai pusat edukasi dan konseling keluarga patut dibaca lebih jauh daripada perluasan tugas birokrasi. Dalam National Symposium of Penghulu and Ulama pada 9\u201310 September 2026 di Cirebon, KUA didorong tidak hanya menangani pencatatan pernikahan, tetapi juga menyediakan konseling berkelanjutan, deteksi dini persoalan rumah tangga, serta jejaring rujukan untuk masalah yang menyangkut perempuan dan anak. (<a href=\"https:\/\/cahaya.kompas.com\/aktual\/26I10100900090\/tak-hanya-catat-pernikahan-kua-disiapkan-jadi-pusat-konseling-keluarga?source=terkini_artikel&amp;utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">cahaya.kompas.com<\/a>)<\/p>\n<p>Pertanyaan terpentingnya bukan apakah KUA dapat menjadi tempat konsultasi baru. Pertanyaannya: apakah layanan itu mampu mencegah anak menjadi penerjemah konflik orang dewasa?<\/p>\n<h2>Anak tidak boleh menjadi kamus bagi kegagalan orang dewasa<\/h2>\n<p>Dalam <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> berjudul \u2018Di Tanah Lada\u2019, Ava menghadapi dunia dengan cara yang sangat khas: ia mencari arti kata. Hukum, kasino, pekerjaan, cerai, nama, dan kasih sayang tidak diterimanya sebagai penjelasan yang sudah selesai. Ia membandingkan kata dengan kenyataan, lalu bertanya ketika keduanya tidak cocok.<\/p>\n<p>Kebiasaan itu tampak lucu karena disampaikan melalui cara berpikir seorang anak. Namun, di baliknya terdapat persoalan yang serius. Ava menggunakan kamus karena orang dewasa di sekelilingnya gagal menyediakan bahasa yang dapat dipercaya. Ia harus menyusun sendiri makna dari pertengkaran, perceraian, pengabaian, dan kekerasan. Anak tidak sekadar kekurangan informasi. Ia dipaksa mengambil alih pekerjaan emosional dan intelektual yang seharusnya dilakukan orang dewasa.<\/p>\n<p>Di sinilah rencana konseling keluarga memperoleh ujian pertamanya. KUA tidak boleh hanya mengajarkan pasangan bagaimana mempertahankan perkawinan, menunaikan kewajiban, atau menghindari konflik. Layanan itu harus membantu orang dewasa menjelaskan konflik kepada anak dengan bahasa yang jujur, sesuai usia, dan tidak menjadikan anak sebagai hakim bagi salah satu pihak.<\/p>\n<p>Anak tidak boleh diminta memilih siapa yang benar. Ia juga tidak boleh dipaksa menyimpan rahasia, menyampaikan pesan antarorang tua, atau menyimpulkan sendiri apakah perceraian terjadi karena dirinya. Konseling keluarga yang tidak memasukkan suara dan kebutuhan anak hanya akan memindahkan beban dari ruang konflik ke kepala anak.<\/p>\n<h2>Konseling berkelanjutan harus mengikuti anak, bukan menunggu keluarga runtuh<\/h2>\n<p>Berita tentang Nasuha 2026 menekankan pentingnya layanan sejak edukasi dan pencegahan hingga pendampingan ketika keluarga menghadapi persoalan. Kemenag juga menyebut perlunya penguatan kapasitas penghulu dan penyuluh agar mampu memberi konseling serta membangun jejaring dengan lembaga yang berwenang. (<a href=\"https:\/\/cahaya.kompas.com\/aktual\/26I10100900090\/tak-hanya-catat-pernikahan-kua-disiapkan-jadi-pusat-konseling-keluarga?source=terkini_artikel&amp;utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">cahaya.kompas.com<\/a>)<\/p>\n<p>Gagasan tersebut penting karena keluarga tidak retak hanya pada hari ketika kekerasan dilaporkan atau gugatan cerai didaftarkan. Keretakan sering tumbuh lebih awal: ketika anak mulai takut pulang, ketika kebutuhan dasarnya diabaikan, ketika orang tua saling menggunakan anak sebagai perantara, atau ketika perpindahan tempat tinggal dilakukan tanpa penjelasan.<\/p>\n<p>Pepper dalam karya tersebut memperlihatkan akibat dari pengasuhan yang tidak stabil. Ia hidup tanpa tempat tidur yang layak, tanpa kepastian tentang ibunya, dan tanpa perlindungan yang dapat diandalkan. Perjalanannya bersama Ava bukan sekadar petualangan dua anak. Itu adalah gambaran tentang bagaimana anak dapat berpindah dari satu ruang ke ruang lain karena orang dewasa gagal menyediakan rumah yang aman.<\/p>\n<p>Hubungannya dengan agenda KUA bersifat analitis: jika layanan hanya muncul ketika pasangan akan menikah atau ketika konflik sudah menjadi perkara, negara akan selalu datang terlambat. Konseling berkelanjutan harus mengenali keluarga yang membutuhkan pendampingan setelah perkawinan, ketika terjadi perubahan ekonomi, perpindahan tempat tinggal, kelahiran anak, konflik pengasuhan, atau muncul tanda-tanda kekerasan.<\/p>\n<p>Namun, pendampingan tidak boleh berubah menjadi pengawasan yang menghukum. Keluarga yang datang meminta bantuan harus merasa aman untuk bercerita. Jika setiap pengakuan langsung dibaca sebagai aib, pelanggaran moral, atau alasan untuk menyalahkan ibu dan ayah, anak akan kembali kehilangan ruang bicara.<\/p>\n<h2>KUA perlu mendengar anak, bukan hanya menasihati orang tua<\/h2>\n<p>Rencana penguatan KUA juga membawa risiko jika konseling dipahami semata-mata sebagai penyampaian nasihat. Nasihat dapat berguna, tetapi tidak cukup ketika keluarga menghadapi kekerasan, kecanduan, penelantaran, gangguan psikologis, atau konflik pengasuhan yang kompleks.<\/p>\n<p>Dalam \u2018Di Tanah Lada\u2019, Ava dan Pepper berulang kali bertemu orang dewasa yang memiliki niat berbeda-beda. Ada yang menolong, ada yang membingungkan, ada yang menyayangi tetapi tidak mampu menjalankan tanggung jawab. Mas Alri menjadi penting bukan karena ia memiliki semua jawaban, melainkan karena ia mau hadir, mendengar, membawa mereka ke tempat aman, dan mengakui bahwa anak-anak itu memiliki ketakutan sendiri.<\/p>\n<p>Pelajaran ini relevan bagi KUA. Penghulu dan penyuluh tidak harus menjadi psikolog, pekerja sosial, atau aparat penegak hukum. Tetapi mereka harus mampu mengenali batas kewenangan, menjaga kerahasiaan, meminta persetujuan yang layak, dan merujuk kasus kepada lembaga yang tepat. Konseling yang bertanggung jawab bukan upaya mempertahankan keluarga dengan segala cara. Jika rumah menjadi tempat kekerasan, tujuan pertama bukan menyatukan kembali semua orang, melainkan memastikan keselamatan anak.<\/p>\n<p>Karena itu, jejaring yang disebut dalam agenda KUA tidak boleh menjadi istilah administratif. Harus ada jalur nyata menuju layanan psikologis, kesehatan, bantuan hukum, perlindungan sosial, dan penanganan kekerasan. Keluarga tidak boleh dipindahkan dari satu meja ke meja lain tanpa orang yang memastikan prosesnya tetap tersambung.<\/p>\n<h2>Mengukur keberhasilan dari berkurangnya beban anak<\/h2>\n<p>Keberhasilan konseling keluarga tidak cukup diukur dari jumlah pasangan yang mengikuti bimbingan, jumlah sesi yang diselenggarakan, atau banyaknya rekomendasi yang dihasilkan forum. Ukuran yang lebih jujur adalah apakah anak menjadi lebih aman, lebih mengerti, dan tidak lagi dipaksa menanggung rahasia orang dewasa.<\/p>\n<p>KUA yang ingin menjadi pusat layanan keluarga harus berani mengubah pertanyaan. Bukan hanya: apakah perkawinan ini dapat dipertahankan? Melainkan juga: apa yang dialami anak, siapa yang mendengarkan mereka, dan apa yang harus dilakukan agar konflik orang dewasa tidak menjadi masa depan anak?<\/p>\n<p>Ava mencari kebenaran melalui kamus. Pepper mencari rumah melalui perjalanan. Keduanya memperlihatkan kegagalan orang dewasa yang tidak selalu berbentuk kekerasan terbuka, tetapi juga berupa diam, ketidakhadiran, dan ketidakmampuan menjelaskan. Konseling keluarga harus bekerja sebelum anak terpaksa melakukan semua itu sendirian.<\/p>\n<p>Jika KUA sungguh ingin menjadi garda depan perlindungan perempuan dan anak, ia harus menjadi tempat orang dewasa belajar bertanggung jawab atas bahasa, keputusan, dan luka yang mereka ciptakan. Anak tidak membutuhkan keluarga yang tampak utuh di atas kertas. Mereka membutuhkan rumah yang mampu mendengar sebelum mereka terpaksa mencari arti keselamatan dengan cara mereka sendiri.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/cahaya.kompas.com\/aktual\/26I10100900090\/tak-hanya-catat-pernikahan-kua-disiapkan-jadi-pusat-konseling-keluarga?source=terkini_artikel\" rel=\"nofollow\">cahaya.kompas.com: Tak Hanya Catat Pernikahan Kua Disiapkan Jadi Pusat Konseling Keluarga<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/jatim.nu.or.id\/nuonline\/kemenag-tegaskan-kua-tidak-sekadar-urus-pernikahan-juga-pusat-layanan-keagamaan-orRwC\" rel=\"nofollow\">jatim.nu.or.id: Kemenag Tegaskan Kua Tidak Sekadar Urus Pernikahan Juga Pusat Layanan Keagamaan Orrwc<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/kemenag.go.id\/en\/nasional\/kemenag-kenalkan-konsep-service-after-sales-di-kua-apa-itu-IolV2\" rel=\"nofollow\">kemenag.go.id: Kemenag Kenalkan Konsep Service After Sales Di Kua Apa Itu Iolv2<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/keluarga-sakinah.com\/blog\/nasuha-2026-sinergi-ulama-penghulu-ketahanan-keluarga\" rel=\"nofollow\">keluarga-sakinah.com: Nasuha 2026 Sinergi Ulama Penghulu Ketahanan Keluarga<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow\">Buku Di Tanah Lada \u2014 Gramedia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rumah tangga sering dinilai dari hal-hal yang mudah dicatat: ada atau tidaknya perkawinan, lengkap atau tidaknya dokumen, berlangsung atau tidaknya bimbingan pranikah. Namun, kehidupan anak tidak berjalan di dalam kolom administrasi. Ia berlangsung di antara suara orang dewasa yang bertengkar, pintu yang ditutup, janji yang berubah, dan pertanyaan yang tidak pernah dijawab dengan jelas. Karena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-78","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=78"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=78"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=78"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=78"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}