{"id":75,"date":"2026-09-29T21:46:10","date_gmt":"2026-09-29T21:46:10","guid":{"rendered":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=75"},"modified":"2026-09-29T21:46:10","modified_gmt":"2026-09-29T21:46:10","slug":"nota-kesepahaman-bukan-ruang-aman-madrasah-harus-mengubah-cara-orang-dewasa-mendengar-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=75","title":{"rendered":"Nota Kesepahaman Bukan Ruang Aman: Madrasah Harus Mengubah Cara Orang Dewasa Mendengar Anak"},"content":{"rendered":"<p>Madrasah sering disebut sebagai tempat pendidikan ilmu sekaligus pembentukan akhlak. Karena itu, ketika Kementerian Agama dan Save the Children Indonesia menandatangani nota kesepahaman pada 21 September 2026 untuk memperkuat pendidikan berbasis nilai keagamaan, hak anak, dan kepedulian terhadap lingkungan, yang dipertaruhkan bukan hanya keberhasilan sebuah program. Yang diuji adalah apakah lembaga pendidikan keagamaan mampu mengubah cara orang dewasa berbicara kepada anak\u2014dan, lebih penting lagi, cara mereka mendengarkan.<\/p>\n<p>Kerja sama itu diarahkan untuk mendorong pendidikan yang bermutu, aman, inklusif, serta melindungi anak dari praktik seperti perundungan. Kementerian Agama menyebut anak harus memperoleh ruang untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak. (<a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5750728\/kemenag-dan-save-the-children-perkuat-pendidikan-ramah-anak?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">antaranews.com<\/a>) Namun, ruang aman tidak lahir hanya karena sebuah lembaga menyandang label ramah anak atau karena nota kesepahaman telah ditandatangani. Ruang aman dimulai dari hubungan sehari-hari: apakah seorang murid boleh bertanya, apakah kebingungannya dianggap penting, dan apakah orang dewasa bersedia menjelaskan keputusan yang memengaruhi hidupnya.<\/p>\n<h2>Anak yang bertanya sedang membaca kuasa<\/h2>\n<p>Dalam <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> berjudul \u2018Di Tanah Lada\u2019, Ava memahami dunia dengan cara yang tidak biasa bagi orang dewasa. Ia mencari arti kata, membandingkan definisi dengan peristiwa, lalu mengajukan pertanyaan ketika kenyataan tidak cocok dengan penjelasan yang diterimanya. Kamus bagi Ava bukan sekadar alat belajar. Ia adalah alat untuk menguji kuasa.<\/p>\n<p>Ketika orang dewasa menyebut judi, hukum, pekerjaan, perceraian, atau keluarga, Ava tidak otomatis memahami maksudnya. Ia harus menyusun sendiri hubungan antara kata dan pengalaman. Di situlah persoalan madrasah menjadi jelas. Anak yang tidak mengerti pelajaran, aturan, hukuman, atau ucapan guru bukan berarti kurang sopan atau kurang cerdas. Bisa jadi bahasa yang digunakan memang tidak menjangkau kehidupannya.<\/p>\n<p>Berita tentang kerja sama Kementerian Agama dan Save the Children relevan karena pendidikan ramah anak harus dimulai dari pengakuan bahwa anak bukan penerima perintah yang pasif. Jika guru mengatakan \u201cdemi kebaikanmu\u201d, anak berhak mengetahui kebaikan seperti apa yang dimaksud, siapa yang menentukan, dan apa yang dapat ia lakukan jika merasa dirugikan. Nilai keagamaan tidak boleh dipakai untuk menutup pertanyaan. Sebaliknya, nilai itu harus mendorong kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat anak.<\/p>\n<h2>Bahasa yang lembut belum tentu membebaskan<\/h2>\n<p>Bahasa orang dewasa tidak selalu kasar untuk menjadi menekan. Kalimat yang terdengar lembut dapat tetap menyembunyikan ketimpangan. Anak diminta patuh karena guru lebih tua, karena lembaga memiliki aturan, atau karena agama diperlakukan sebagai alasan yang tidak boleh dipertanyakan. Dalam keadaan seperti itu, sopan santun dapat berubah menjadi alat untuk mempertahankan jarak.<\/p>\n<p>Ava dan Pepper memperlihatkan akibat dari relasi semacam itu. Keduanya hidup di sekitar orang dewasa yang menentukan tempat tinggal, makanan, nama, keselamatan, dan masa depan mereka. Tetapi keputusan-keputusan tersebut sering tidak dijelaskan dengan bahasa yang dapat mereka pahami. Anak akhirnya harus menebak-nebak: apakah rumah masih aman, apakah orang tua masih akan datang, apakah seseorang benar-benar menolong, atau apakah janji tentang hari esok dapat dipercaya.<\/p>\n<p>Di madrasah, pola yang sama dapat muncul dalam bentuk yang lebih rapi. Anak diminta melapor, tetapi tidak tahu kepada siapa. Ia diberi nasihat tentang akhlak, tetapi tidak diberi ruang untuk menceritakan ketakutan. Ia diajari menghormati guru, tetapi tidak diberi perlindungan ketika orang dewasa menyalahgunakan kewenangan. Karena itu, pencegahan perundungan tidak cukup berupa ceramah tentang perilaku baik. Kementerian Agama dan Save the Children perlu memastikan bahwa setiap madrasah memiliki prosedur yang dapat dipahami murid, petugas yang dipercaya, serta jaminan bahwa laporan tidak berubah menjadi hukuman bagi korban. Kerja sama mereka memang menyebut perlindungan dari bullying dan praktik yang tidak produktif; ukuran keberhasilannya harus terlihat dalam pengalaman anak, bukan hanya dalam laporan kegiatan. (<a href=\"https:\/\/www.detik.com\/hikmah\/khazanah\/d-8672379\/kemenag-dan-save-the-children-kolaborasi-cegah-bullying-di-madrasah-dan-pesantren?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">detik.com<\/a>)<\/p>\n<h2>Dari seremonial menuju perubahan di kelas<\/h2>\n<p>Program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia atau KREASI dilaporkan telah menjangkau 89 Raudhatul Athfal dan Madrasah Ibtidaiyah di delapan kabupaten dan empat provinsi. Capaian itu penting, terutama karena mencakup wilayah yang menghadapi keterbatasan layanan pendidikan. Namun, angka jangkauan tidak otomatis menunjukkan bahwa relasi kuasa di ruang kelas telah berubah. (<a href=\"https:\/\/www.detik.com\/hikmah\/khazanah\/d-8672418\/program-kreasi-jangkau-89-madrasah-kemenag-berencana-tambah-target?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">detik.com<\/a>)<\/p>\n<p>Di sinilah hubungan ketiga dengan pengalaman Ava dan Pepper menjadi penting. Anak-anak dalam cerita tersebut tidak hanya membutuhkan tempat baru. Mereka membutuhkan orang dewasa yang menjelaskan, mengingat, dan hadir secara konsisten. Begitu pula madrasah: tidak cukup membuka pintu bagi anak, lalu menganggap tugas perlindungan selesai. Lembaga harus memastikan bahwa guru mengetahui riwayat masalah anak, memahami tanda-tanda ketakutan, dan tidak menganggap perubahan perilaku sebagai kenakalan semata.<\/p>\n<p>Kurikulum Berbasis Cinta, yang dalam seminar tersebut dikaitkan dengan upaya memeriksa kondisi siswa sebelum kegiatan belajar dimulai, dapat menjadi langkah berarti bila tidak berhenti sebagai slogan. Guru perlu benar-benar bertanya bagaimana keadaan murid, menyediakan waktu untuk mendengar jawaban, dan mampu membedakan antara anak yang tidak mau belajar dengan anak yang sedang membawa masalah dari rumah. (<a href=\"https:\/\/www.detik.com\/hikmah\/khazanah\/d-8673010\/kurikulum-berbasis-cinta-begini-cara-kemenag-ciptakan-ruang-belajar-aman\/amp?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">detik.com<\/a>)<\/p>\n<h2>Madrasah harus memberi anak bahasa untuk melawan ketakutan<\/h2>\n<p>Ruang aman bukan ruang tanpa aturan. Ia adalah ruang yang membuat aturan dapat dipahami, dipertanyakan, dan diterapkan secara adil. Anak tidak membutuhkan orang dewasa yang selalu membenarkan keinginannya. Anak membutuhkan orang dewasa yang tidak memaksa mereka menerima ketidakadilan sebagai bagian dari pendidikan.<\/p>\n<p>Karena itu, nota kesepahaman tersebut seharusnya diterjemahkan ke dalam perubahan yang dapat dirasakan: bahasa pengaduan yang sederhana, pendamping yang tidak menghakimi, pelatihan guru tentang kekerasan dan perundungan, perlindungan terhadap kerahasiaan anak, serta evaluasi yang melibatkan murid secara sungguh-sungguh. Anak harus dapat mengatakan \u201ctidak aman\u201d tanpa terlebih dahulu menguasai bahasa birokrasi.<\/p>\n<p>Pelajaran terbesar dari \u2018Di Tanah Lada\u2019 bukan bahwa anak selalu benar membaca dunia. Pelajarannya adalah bahwa kebingungan anak sering mengandung pengetahuan yang gagal dikenali orang dewasa. Ava bertanya karena ia sedang berusaha memahami. Pepper diam karena ia telah belajar bahwa bicara dapat mendatangkan masalah. Madrasah yang ramah anak harus mampu membaca keduanya: pertanyaan yang keras dan diam yang panjang.<\/p>\n<p>Jika kerja sama kelembagaan hanya menghasilkan spanduk, seminar, dan laporan, ia tidak akan mengubah nasib anak. Tetapi jika ia mengubah cara guru menjelaskan, cara pimpinan menanggapi laporan, dan cara lembaga memandang suara murid, pendidikan berbasis nilai keagamaan dapat menjadi lebih dari slogan. Ia dapat menjadi tempat anak belajar bahwa iman, pengetahuan, dan keselamatan tidak berdiri berlawanan dengan keberanian untuk bertanya.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5750728\/kemenag-dan-save-the-children-perkuat-pendidikan-ramah-anak\" rel=\"nofollow\">ANTARA News: Kemenag Dan Save The Children Perkuat Pendidikan Ramah Anak<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5751412\/menag-tegaskan-anak-harus-tumbuh-di-lingkungan-pendidikan-yang-aman\" rel=\"nofollow\">ANTARA News: Menag Tegaskan Anak Harus Tumbuh Di Lingkungan Pendidikan Yang Aman<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/kemenagkabsukabumi.id\/unsur-pendidikan-madrasah-kemenag-kabupaten-sukabumi-ikuti-seminar-sinergi-pendidikan-dan-perlindungan-anak\/\" rel=\"nofollow\">kemenagkabsukabumi.id: Unsur Pendidikan Madrasah Kemenag Kabupaten Sukabumi Ikuti Seminar Sinergi Pendidikan Dan Perlindungan Anak<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.detik.com\/hikmah\/khazanah\/d-8673010\/kurikulum-berbasis-cinta-begini-cara-kemenag-ciptakan-ruang-belajar-aman\/amp\" rel=\"nofollow\">detik.com: Amp<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow\">Buku Di Tanah Lada \u2014 Gramedia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Madrasah sering disebut sebagai tempat pendidikan ilmu sekaligus pembentukan akhlak. Karena itu, ketika Kementerian Agama dan Save the Children Indonesia menandatangani nota kesepahaman pada 21 September 2026 untuk memperkuat pendidikan berbasis nilai keagamaan, hak anak, dan kepedulian terhadap lingkungan, yang dipertaruhkan bukan hanya keberhasilan sebuah program. Yang diuji adalah apakah lembaga pendidikan keagamaan mampu mengubah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-75","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=75"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=75"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=75"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=75"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}