{"id":61,"date":"2026-09-29T00:16:13","date_gmt":"2026-09-29T00:16:13","guid":{"rendered":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=61"},"modified":"2026-09-29T00:16:13","modified_gmt":"2026-09-29T00:16:13","slug":"ketika-program-asuh-menjadikan-anak-sasaran-bukan-pengambil-keputusan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=61","title":{"rendered":"Ketika Program Asuh Menjadikan Anak Sasaran, Bukan Pengambil Keputusan"},"content":{"rendered":"<p>Dalam perlindungan anak, niat baik sering hadir lebih cepat daripada pertanyaan tentang kuasa. Orang dewasa menawarkan diri sebagai pengasuh, sahabat, pembina, atau pelindung; anak ditempatkan sebagai pihak yang harus dibina agar tidak masuk ke \u201csituasi yang merugikan masa depannya\u201d. Bahasa itu terdengar menenangkan. Namun, justru karena terdengar begitu wajar, ia perlu diperiksa.<\/p>\n<p>Pada 17 September 2026, Polda Metro Jaya menggagas Program Bapak Asuh, Ibu Asuh, dan Sahabat Pelajar untuk memperkuat perlindungan serta pencegahan dini di sekolah. Program itu merupakan tindak lanjut Forum Kemitraan Polri dan Masyarakat Sekolah yang sebelumnya dikembangkan di 11 sekolah di Jakarta. Polisi diarahkan hadir secara berkelanjutan, bukan hanya memberi penyuluhan, melainkan membangun komunikasi agar pelajar memiliki ruang untuk bertanya, bercerita, dan berkonsultasi. Ancaman yang hendak dicegah mencakup perundungan, kekerasan, tawuran, dan pengaruh negatif media sosial. (<a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5745140\/polda-metro-gagas-program-bapak-asuh-perkuat-perlindungan-di-sekolah?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">antaranews.com<\/a>)<\/p>\n<p>Tujuannya penting. Tetapi ukuran keberhasilannya tidak boleh berhenti pada seberapa dekat polisi dengan siswa. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah: apakah anak tetap memiliki hak untuk menilai kedekatan itu, menolaknya, atau mengadu ketika pendamping yang ditunjuk justru membuatnya tidak nyaman?<\/p>\n<h2>Nama \u201casuh\u201d tidak boleh menghapus posisi anak sebagai subjek<\/h2>\n<p>Dalam <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> berjudul \u2018Di Tanah Lada\u2019, Ava berkali-kali berhadapan dengan orang dewasa yang menganggap mereka lebih tahu. Mereka memindahkannya dari rusun ke hotel, dari kamar yang tidak aman ke kemungkinan rumah kerabat, lalu menjelaskan bahwa semua itu dilakukan demi kebaikannya. Masalahnya, Ava tidak pernah sepenuhnya memahami keputusan tersebut. Ia hanya menerima akibatnya: kehilangan tempat, kehilangan barang, kehilangan rutinitas, dan harus menebak siapa yang dapat dipercaya.<\/p>\n<p>Di sinilah hubungan pertama dengan program kepolisian itu menjadi penting. Gagasan \u201casuh\u201d dapat menyediakan kehadiran yang dibutuhkan anak, tetapi juga mudah menempatkan orang dewasa sebagai penyelamat dan anak sebagai sasaran pembinaan. Padahal, perlindungan bukan sekadar menghadirkan figur yang lebih tua. Perlindungan berarti memastikan anak tahu siapa pendampingnya, apa batas kewenangannya, kepada siapa cerita akan disampaikan, dan apa yang terjadi setelah laporan dibuat.<\/p>\n<p>Tanpa penjelasan semacam itu, kata \u201casuh\u201d hanya mengganti bahasa pengawasan dengan bahasa keluarga. Hubungan yang secara kelembagaan bersifat hierarkis bisa tampak akrab, padahal anak tetap berada pada posisi yang lebih lemah.<\/p>\n<h2>Kedekatan harus memberi hak untuk berkata tidak<\/h2>\n<p>Salah satu pelajaran paling kuat dari hubungan Ava dan Pepper adalah bahwa bahasa sederhana dapat menjadi alat mempertahankan diri. Ava belajar mengatakan \u201cnggak\u201d, bukan karena penolakan selalu menyelesaikan masalah, melainkan karena anak perlu memiliki kata untuk membatasi orang lain. Ia perlu tahu bahwa tidak semua perintah harus diterima, tidak semua kedekatan harus dibalas, dan tidak semua orang dewasa otomatis benar.<\/p>\n<p>Program Bapak Asuh dan Ibu Asuh akan kehilangan makna jika anak hanya diajari untuk terbuka, tetapi tidak diberi hak untuk menutup percakapan. Anak diminta bercerita kepada pendamping, tetapi tidak tahu apakah cerita itu akan dirahasiakan. Anak didorong melapor, tetapi tidak diberi pilihan tentang siapa yang menerima laporan. Anak diminta percaya kepada polisi, tetapi tidak dijelaskan apa yang dapat dilakukan ketika petugas yang menjadi tempat mengadu tidak memahami situasinya.<\/p>\n<p>Karena itu, setiap pendampingan perlu memiliki aturan yang dapat dipahami anak: persetujuan sebelum percakapan pribadi, larangan membalas laporan dengan hukuman, jalur pengaduan alternatif, serta pilihan untuk berbicara dengan pendamping perempuan, guru, konselor, atau lembaga lain. Anak tidak boleh kehilangan perlindungan hanya karena ia tidak cocok dengan figur \u201cbapak\u201d atau \u201cibu\u201d yang telah ditetapkan.<\/p>\n<h2>Pencegahan dini jangan berubah menjadi pemburuan tanda bahaya<\/h2>\n<p>Polda Metro Jaya menyebut program tersebut sebagai sistem pencegahan sejak dini. Personel diminta memahami karakter lingkungan sekolah dan dinamika yang dihadapi siswa, sementara polisi diharapkan hadir bukan sebagai sosok yang menakutkan, melainkan mitra yang dapat dipercaya. (<a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5746585\/polda-metro-jaya-inisiasi-program-bapak-asuh-cegah-kenakalan-pelajar?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">antaranews.com<\/a>)<\/p>\n<p>Gagasan itu memiliki hubungan ketiga dengan <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> ini. Dalam kisah Ava, orang dewasa sering terlambat memahami tanda-tanda bahaya karena terlalu sibuk mengurus urusan mereka sendiri. Tangisan, kebingungan, tidur di dalam koper, dan keinginan kembali kepada Pepper tidak segera dibaca sebagai kebutuhan akan keamanan dan penjelasan. Anak akhirnya harus mengulang-ulang keinginannya agar dianggap memiliki kepentingan.<\/p>\n<p>Pencegahan dini seharusnya memperbaiki kegagalan itu. Namun, deteksi dini juga dapat melahirkan masalah baru jika anak hanya dibaca sebagai kumpulan tanda: siswa yang pendiam dianggap bermasalah, anak yang sering absen dianggap berisiko, atau remaja yang aktif di media sosial dianggap dekat dengan pelanggaran. Dari sana, pendampingan dapat berubah menjadi pemantauan dan pelabelan.<\/p>\n<p>Anak yang berada dalam situasi sulit membutuhkan orang dewasa yang mau bertanya, bukan hanya mencatat. Ia membutuhkan pendamping yang mampu membedakan antara perilaku yang membahayakan orang lain dan perilaku yang sebenarnya merupakan cara bertahan. Jika setiap tanda langsung diteruskan kepada orang tua, sekolah, atau aparat tanpa mempertimbangkan keselamatan anak, program perlindungan justru dapat mengembalikan anak ke sumber ancaman.<\/p>\n<h2>Polisi boleh dekat, tetapi tanggung jawab tidak boleh kabur<\/h2>\n<p>Berbagai pihak memang harus terlibat dalam perlindungan anak. Kepolisian tidak mungkin bekerja sendiri; sekolah, orang tua, dan masyarakat harus berbagi peran. Hal itu juga ditegaskan dalam penjelasan program tersebut. (<a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5745140\/polda-metro-gagas-program-bapak-asuh-perkuat-perlindungan-di-sekolah?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">antaranews.com<\/a>) Namun, semakin banyak pihak yang terlibat, semakin penting pembagian tanggung jawab dibuat terang.<\/p>\n<p>Siapa yang memeriksa kelayakan pendamping? Siapa yang mengawasi interaksi mereka dengan siswa? Siapa yang menindak jika laporan diabaikan? Apakah sekolah wajib memberi tahu anak tentang perkembangan kasusnya? Apakah ada evaluasi yang melibatkan siswa, bukan hanya laporan dari aparat dan pengelola sekolah?<\/p>\n<p>Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tanda penolakan terhadap program. Justru sebaliknya, itulah syarat agar program tidak berhenti sebagai seremoni kedekatan. Anak membutuhkan pendampingan, tetapi bukan pendampingan yang membuat mereka harus patuh kepada orang dewasa baru. Mereka membutuhkan orang yang mau mendengar, sekaligus sistem yang memungkinkan mereka berkata tidak.<\/p>\n<p>Di Tanah Lada mengingatkan bahwa rumah, keluarga, sekolah, bahkan figur pelindung tidak otomatis aman hanya karena disebut demikian. Keamanan dibuktikan melalui tindakan: anak diberi penjelasan, dipercaya ketika bercerita, dilindungi dari pembalasan, dan dilibatkan dalam keputusan yang menyangkut hidupnya.<\/p>\n<p>Maka, Program Bapak Asuh, Ibu Asuh, dan Sahabat Pelajar seharusnya tidak menjadikan anak sasaran yang harus dibentuk agar sesuai dengan harapan orang dewasa. Ia harus menjadikan anak pengambil keputusan yang suaranya menentukan apakah perlindungan itu benar-benar bekerja. Kalau tidak, kata \u201casuh\u201d hanya akan menjadi nama lain bagi hubungan yang meminta kepercayaan tanpa terlebih dahulu memberikan kuasa kepada anak untuk memilih.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5745140\/polda-metro-gagas-program-bapak-asuh-perkuat-perlindungan-di-sekolah\" rel=\"nofollow\">ANTARA News: Polda Metro Gagas Program Bapak Asuh Perkuat Perlindungan Di Sekolah<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-8666490\/perkuat-keamanan-sekolah-kapolda-metro-luncurkan-program-bapak-asuh\" rel=\"nofollow\">news.detik.com: Perkuat Keamanan Sekolah Kapolda Metro Luncurkan Program Bapak Asuh<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5746585\/polda-metro-jaya-inisiasi-program-bapak-asuh-cegah-kenakalan-pelajar\" rel=\"nofollow\">ANTARA News: Polda Metro Jaya Inisiasi Program Bapak Asuh Cegah Kenakalan Pelajar<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/kabidhumasmetro.buher2000.id\/deteksi-dini-untuk-menjaga-masa-depan-anak-polda-metro-jaya-inisiasi-program-sahabat-pelajar\/\" rel=\"nofollow\">kabidhumasmetro.buher2000.id: Deteksi Dini Untuk Menjaga Masa Depan Anak Polda Metro Jaya Inisiasi Program Sahabat Pelajar<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow\">Buku Di Tanah Lada \u2014 Gramedia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam perlindungan anak, niat baik sering hadir lebih cepat daripada pertanyaan tentang kuasa. Orang dewasa menawarkan diri sebagai pengasuh, sahabat, pembina, atau pelindung; anak ditempatkan sebagai pihak yang harus dibina agar tidak masuk ke \u201csituasi yang merugikan masa depannya\u201d. Bahasa itu terdengar menenangkan. Namun, justru karena terdengar begitu wajar, ia perlu diperiksa. Pada 17 September [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-61","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/61","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=61"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/61\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=61"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=61"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=61"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}