{"id":58,"date":"2026-09-28T20:16:01","date_gmt":"2026-09-28T20:16:01","guid":{"rendered":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=58"},"modified":"2026-09-28T20:16:01","modified_gmt":"2026-09-28T20:16:01","slug":"medali-tidak-menjamin-keselamatan-mengapa-olahraga-anak-membutuhkan-penjaga-yang-bekerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=58","title":{"rendered":"Medali Tidak Menjamin Keselamatan: Mengapa Olahraga Anak Membutuhkan Penjaga yang Bekerja"},"content":{"rendered":"<p>Olahraga anak sering dibungkus dengan kata-kata yang terdengar bersih: disiplin, kerja keras, pengorbanan, pembinaan, prestasi. Namun, justru di balik bahasa itulah relasi kuasa dapat bekerja tanpa banyak dipertanyakan. Pelatih mengatur tubuh dan jadwal latihan. Pengurus menentukan keberangkatan dan akses kompetisi. Orang dewasa lain menguasai tempat tinggal, peralatan, beasiswa, bahkan kemungkinan seorang atlet dipanggil ke pertandingan berikutnya. Medali mungkin mengukur hasil. Ia tidak otomatis mengukur keselamatan.<\/p>\n<p>Pada 15 September 2026, Komite Olimpiade Indonesia menyatakan mengerahkan dua petugas safeguarding untuk memperkuat perlindungan atlet Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, yang berlangsung 19 September hingga 4 Oktober. Keduanya, Tabitha Sumendap dan Sophia Hage, telah memperoleh sertifikasi dari Safe Sport Commission Singapore. Mereka dijadwalkan memberi edukasi, pendampingan, panduan awal, serta membantu koordinasi terkait keselamatan dan kesejahteraan atlet, baik di arena pertandingan maupun athlete village. (<a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5742365\/dua-safeguarding-perkuat-perlindungan-atlet-asian-games?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">antaranews.com<\/a>)<\/p>\n<p>Langkah ini penting. Tetapi nilainya tidak terletak pada jumlah dua petugas itu semata. Pertanyaan yang lebih serius adalah apakah kehadiran mereka mengubah cara olahraga memahami anak, atau hanya menambahkan lapisan baru ketika kompetisi sudah dimulai.<\/p>\n<h2>Dari Ava dan Pepper ke arena pertandingan: rasa aman tidak boleh bergantung pada satu orang baik<\/h2>\n<p>Dalam <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> berjudul \u2018Di Tanah Lada\u2019, Ava dan Pepper berkali-kali berada dalam situasi ketika keselamatan mereka bergantung pada orang dewasa tertentu. Mas Alri membantu, mendengar, dan berusaha membawa mereka menjauh dari bahaya. Nenek Isma menawarkan kemungkinan rumah yang lebih hangat. Namun, kebaikan individu tidak pernah sepenuhnya sama dengan perlindungan. Selama nasib anak bergantung pada siapa yang kebetulan peduli, keselamatan tetap rapuh.<\/p>\n<p>Situasi serupa dapat muncul dalam olahraga. Seorang atlet muda mungkin memiliki pelatih yang perhatian, dokter tim yang peka, atau senior yang berani menolong. Namun, bagaimana jika pelatih itu justru menjadi sumber tekanan? Bagaimana jika orang yang harus menerima laporan adalah bagian dari struktur yang ditakuti atlet? Bagaimana jika seorang anak khawatir kehilangan tempat di tim, uang saku, kesempatan bertanding, atau dukungan keluarga bila berbicara?<\/p>\n<p>Di titik itu, safeguarding harus bekerja sebagai sistem, bukan sebagai kemurahan hati. Petugas yang mobile di arena dan athlete village dapat menjadi pintu awal yang penting. Namun, pintu itu hanya bermakna jika atlet tahu cara menggunakannya, percaya bahwa laporannya dirahasiakan, dan yakin bahwa pengaduan tidak akan mengakhiri kariernya. (<a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5742365\/dua-safeguarding-perkuat-perlindungan-atlet-asian-games?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">antaranews.com<\/a>)<\/p>\n<h2>Ruang pembinaan bukan ruang yang otomatis aman<\/h2>\n<p>Olahraga kerap memperoleh kekebalan moral karena dianggap mendidik karakter. Latihan keras disebut pembentukan mental. Teguran disebut bagian dari disiplin. Kedekatan fisik dianggap wajar karena tuntutan teknik. Perintah untuk menahan sakit dipuji sebagai ketangguhan. Padahal, tidak semua tekanan adalah pendidikan, dan tidak semua kepatuhan menunjukkan persetujuan.<\/p>\n<p>Di sinilah pengalaman Pepper menjadi cermin penting. Ia hidup di ruang yang oleh orang dewasa dapat disebut tempat tinggal, tetapi bagi dirinya ruang itu menyimpan kekerasan, ketakutan, dan ketidakberdayaan. Nama tempat tidak menjamin pengalaman penghuninya. Dengan cara yang sama, pusat latihan, asrama atlet, ruang ganti, kendaraan tim, atau athlete village tidak otomatis aman hanya karena berada di bawah penyelenggara resmi.<\/p>\n<p>Hubungan ini bukan klaim bahwa <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> tersebut sedang membicarakan olahraga. Ini adalah perbandingan: baik dalam perjalanan Ava dan Pepper maupun dalam ekosistem olahraga, anak berada di ruang yang aturannya dibuat orang dewasa. Ia membutuhkan mekanisme untuk mengatakan bahwa sebuah sentuhan, hukuman, candaan, pesan pribadi, atau perintah telah melewati batas. Tanpa itu, budaya pembinaan dapat berubah menjadi budaya diam.<\/p>\n<h2>Safeguarding harus hadir sebelum pelanggaran, bukan setelah skandal<\/h2>\n<p>Pernyataan KOI bahwa safeguarding bukan hanya soal menangani kesalahan, melainkan membangun budaya keselamatan, rasa hormat, martabat, dan kesejahteraan, patut diuji secara konkret. (<a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5742365\/dua-safeguarding-perkuat-perlindungan-atlet-asian-games?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">antaranews.com<\/a>) Budaya tidak lahir dari poster, pelatihan satu kali, atau petugas yang hadir di sebuah ajang besar. Budaya dibentuk oleh aturan yang dipahami, pengawasan yang independen, saluran laporan yang mudah, dan konsekuensi yang jelas bagi pelanggaran.<\/p>\n<p>Karena itu, perlindungan atlet muda setidaknya membutuhkan beberapa jaminan. Pertama, anak harus diberi penjelasan dengan bahasa yang dapat dipahami tentang haknya, batas perilaku yang pantas, dan siapa yang dapat dihubungi. Kedua, laporan tidak boleh berhenti pada orang yang memiliki hubungan langsung dengan pelatih atau federasi. Ketiga, kerahasiaan identitas harus dijaga agar anak tidak dihukum secara sosial maupun profesional karena berani bicara. Keempat, pelapor harus memperoleh pendampingan medis, psikologis, dan hukum bila diperlukan.<\/p>\n<p>Kebutuhan itu kembali pada inti <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> ini: Ava tidak berhenti pada apa yang dikatakan orang dewasa. Ia mencari arti, membandingkan kata dengan kenyataan, lalu bertanya ketika keduanya tidak cocok. Anak-anak dalam olahraga juga berhak melakukan hal yang sama. Mereka berhak bertanya mengapa latihan harus menyakitkan, mengapa hukuman diperlukan, mengapa pesan pribadi dikirim larut malam, atau mengapa keluhan mereka dianggap sebagai tanda tidak loyal.<\/p>\n<h2>Medali bukan alasan untuk menunda pertanggungjawaban<\/h2>\n<p>Olahraga nasional memang membutuhkan target, jadwal, seleksi, dan tuntutan performa. Namun, prestasi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi hak anak atas tubuh yang aman dan suara yang dihormati. Atlet muda bukan bahan bakar ambisi lembaga. Mereka bukan milik pelatih, federasi, atau negara hanya karena mengenakan seragam pertandingan.<\/p>\n<p>Penugasan dua petugas safeguarding pada Asian Games 2026 dapat menjadi langkah awal yang berarti bila diteruskan menjadi infrastruktur perlindungan yang bekerja setiap hari\u2014di klub, pemusatan latihan, asrama, perjalanan, dan kompetisi lokal. Jika berhenti sebagai respons terhadap acara besar, ia hanya akan menjadi prosedur. Jika diterapkan sejak awal pembinaan, disertai evaluasi dan mekanisme pemulihan, ia dapat mengubah hubungan antara anak dan lembaga olahraga.<\/p>\n<p>Akhirnya, ukuran keberhasilan olahraga anak bukan hanya berapa medali yang dibawa pulang. Ukurannya juga apakah anak dapat pulang tanpa membawa ketakutan, apakah ia tahu kepada siapa harus berbicara, dan apakah orang dewasa bersedia mendengarkan sebelum luka menjadi skandal. Dalam dunia yang terus meminta anak kuat, safeguarding mengingatkan bahwa tugas utama orang dewasa bukan menguji seberapa banyak penderitaan dapat ditanggung anak, melainkan memastikan penderitaan itu tidak dinormalisasi sebagai harga kemenangan.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5742365\/dua-safeguarding-perkuat-perlindungan-atlet-asian-games\" rel=\"nofollow\">ANTARA News: Dua Safeguarding Perkuat Perlindungan Atlet Asian Games<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/tag\/olahraga-asia\" rel=\"nofollow\">ANTARA News: Olahraga Asia<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/tag\/kontingen\" rel=\"nofollow\">ANTARA News: Kontingen<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/asiangames.antaranews.com\/bintang\" rel=\"nofollow\">asiangames.antaranews.com: Bintang<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow\">Buku Di Tanah Lada \u2014 Gramedia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Olahraga anak sering dibungkus dengan kata-kata yang terdengar bersih: disiplin, kerja keras, pengorbanan, pembinaan, prestasi. Namun, justru di balik bahasa itulah relasi kuasa dapat bekerja tanpa banyak dipertanyakan. Pelatih mengatur tubuh dan jadwal latihan. Pengurus menentukan keberangkatan dan akses kompetisi. Orang dewasa lain menguasai tempat tinggal, peralatan, beasiswa, bahkan kemungkinan seorang atlet dipanggil ke pertandingan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-58","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/58","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=58"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/58\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=58"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=58"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=58"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}