{"id":153,"date":"2026-10-05T04:01:52","date_gmt":"2026-10-05T04:01:52","guid":{"rendered":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=153"},"modified":"2026-10-05T04:01:52","modified_gmt":"2026-10-05T04:01:52","slug":"ketika-tubuh-anak-menjadi-alasan-untuk-mengusirnya-dari-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=153","title":{"rendered":"Ketika Tubuh Anak Menjadi Alasan untuk Mengusirnya dari Sekolah"},"content":{"rendered":"<p>Sebuah tubuh anak dapat menjadi alasan orang dewasa membuka layanan kesehatan. Namun, tubuh yang sama juga dapat dijadikan bahan ejekan, tanda kegagalan, bahkan alasan diam-diam untuk mengeluarkan seorang anak dari ruang pendidikan. Di situlah kisah remaja asal Bogor bernama Intan Permatasari menjadi penting. Ia dilaporkan berhenti sekolah pada usia 12 tahun setelah mengalami perundungan berkepanjangan karena persoalan berat badan dan mengalami tekanan psikologis berat. Ia mengingat teman-temannya mencubit, mengambil uang, dan melempar buku ke arahnya. (<a href=\"https:\/\/www.detik.com\/sumut\/berita\/d-8654253\/kisah-pilu-remaja-bogor-putus-sekolah-gegara-obesitas-dan-jadi-korban-bully?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">detik.com<\/a>)<\/p>\n<p>Peristiwa itu tidak boleh dibaca sebagai kisah tentang anak yang \u201ctidak kuat\u201d menghadapi sekolah. Yang perlu ditanyakan justru sebaliknya: sekolah macam apa yang membiarkan tubuh seorang anak berubah menjadi sasaran penghukuman sosial? Dan mengapa keputusan terakhir yang tersedia bagi keluarga adalah menarik anak dari sekolah, bukan menghentikan kekerasan yang membuatnya tidak aman?<\/p>\n<h2>Tubuh yang Dinilai, Anak yang Dihilangkan<\/h2>\n<p>Dalam <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> berjudul \u2018Di Tanah Lada\u2019, Ava dan Pepper hidup di tengah orang dewasa yang terlalu sering memberi nama, menafsirkan, dan mengambil keputusan atas hidup mereka. Ava belajar memahami dunia melalui kamus karena kata-kata besar seperti hukum, cerai, legal, dan hidup hadir lebih cepat daripada penjelasan yang memadai. Pepper, sementara itu, harus berhadapan dengan nama, luka, keluarga, dan masa depan yang ditentukan orang lain.<\/p>\n<p>Keduanya menunjukkan bahwa pelabelan bukan tindakan yang netral. Ketika seorang anak disebut malas, jahat, merepotkan, atau tidak normal, label itu dapat mengubah cara semua orang memperlakukannya. Tubuh Intan mengalami proses serupa. Obesitas, yang semestinya dibaca sebagai persoalan kesehatan yang membutuhkan dukungan, bergeser menjadi identitas sosial yang dipakai untuk mengejek dan mengisolasi.<\/p>\n<p>Perbedaan tubuh lalu dianggap sebagai kesalahan moral. Anak tidak lagi dilihat sebagai murid yang berhak belajar, melainkan sebagai tubuh yang mengganggu pemandangan kelas, bahan lelucon, atau objek yang harus diperbaiki. Di titik itu, perundungan bekerja lebih jauh daripada hinaan. Ia mengajari anak bahwa keberadaannya sendiri adalah masalah.<\/p>\n<h2>Sekolah yang Tidak Aman Mengusir Korban<\/h2>\n<p>Laporan tentang Intan memperlihatkan rangkaian sebab-akibat yang jelas: ejekan dan tindakan agresif berulang menghasilkan ketakutan, penarikan diri, depresi, lalu putus sekolah. Berhenti sekolah tampak seperti keputusan keluarga, tetapi keputusan itu lahir dari ruang pilihan yang sudah dipersempit oleh kekerasan. Anak tidak benar-benar memilih meninggalkan pendidikan jika pilihan lainnya adalah kembali ke tempat yang setiap hari mengancam martabatnya. (<a href=\"https:\/\/www.detik.com\/sumut\/berita\/d-8654253\/kisah-pilu-remaja-bogor-putus-sekolah-gegara-obesitas-dan-jadi-korban-bully?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">detik.com<\/a>)<\/p>\n<p>Di sinilah pengalaman Ava dan Pepper di Rusun Nero menjadi cermin yang tajam. Tempat tinggal tidak otomatis menjadi rumah, sebagaimana sekolah tidak otomatis menjadi ruang aman. Rusun itu buruk secara fisik, tetapi bahaya yang lebih besar muncul dari orang-orang yang menguasai ruang, uang, tubuh, dan gerak anak. Sekolah pun dapat berubah menjadi ruang serupa ketika murid harus terus menebak siapa yang akan mengejek, menyentuh, mengambil barang, atau menertawakan tubuhnya.<\/p>\n<p>Perbedaan konteksnya jelas: Ava dan Pepper berhadapan dengan kekerasan keluarga serta kerentanan sosial, sementara Intan menghadapi perundungan di lingkungan pendidikan. Namun, hubungan itu merupakan pembacaan analitis, bukan klaim bahwa <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> tersebut menceritakan kasus Bogor. Benang merahnya adalah hilangnya rasa aman ketika orang dewasa gagal menghentikan kuasa yang bekerja atas tubuh anak.<\/p>\n<p>Karena itu, sekolah tidak dapat menganggap persoalan selesai ketika korban dipindahkan, tidak masuk kelas, atau akhirnya mengundurkan diri. Jika pelaku tetap berada di ruang belajar dan korban yang pergi, institusi sedang mengirim pesan bahwa tubuh tertentu memang tidak sepenuhnya diterima.<\/p>\n<h2>Pemeriksaan Kesehatan Tidak Boleh Menjadi Pemeriksaan Harga Diri<\/h2>\n<p>Pemerintah Kota Bogor dan Kementerian Kesehatan kini mendorong pemeriksaan kesehatan anak sekolah, termasuk untuk mendeteksi gizi lebih dan obesitas. Di Kota Bogor, hasil pemeriksaan tahun 2025 mencatat gizi lebih dan obesitas pada 8,24 persen sasaran yang diperiksa. (<a href=\"https:\/\/www.kemkes.go.id\/id\/temukan-masalah-gigi-hingga-obesitas-pada-siswa-kemenkes-jadikan-ckg-pintu-masuk-wujudkan-generasi-unggul?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">kemkes.go.id<\/a>)<\/p>\n<p>Kebijakan semacam itu penting apabila diarahkan pada layanan yang tidak menghakimi: konsultasi, dukungan keluarga, akses gizi yang layak, aktivitas fisik yang menyenangkan, serta pendampingan psikologis. Namun, angka kesehatan tidak boleh menjadi angka nilai seorang anak. Pemeriksaan harus membuka pintu pertolongan, bukan menyediakan daftar baru untuk mempermalukan murid.<\/p>\n<p>Pelajaran dari \u2018Di Tanah Lada\u2019 terletak pada jarak antara kata dan pengalaman. Ava dapat menemukan arti sebuah kata, tetapi belum tentu memahami bagaimana kata itu bekerja dalam hidupnya. Demikian pula istilah \u201cobesitas\u201d dapat membantu tenaga kesehatan menentukan kebutuhan layanan, tetapi tidak menjelaskan seluruh diri seorang anak. Ia tidak menerangkan apakah anak itu penyayang, cerdas, lucu, takut, ingin berteman, atau memiliki cita-cita.<\/p>\n<p>Jika sekolah mengajarkan bahwa tubuh sehat adalah syarat untuk diterima, program kesehatan justru dapat memperkuat stigma. Anak akan belajar menyembunyikan tubuh, menghindari pemeriksaan, menolak makan bersama, atau tidak mau datang ke sekolah. Tujuan kesehatan pun gagal karena pendekatannya membuat anak semakin jauh dari dukungan.<\/p>\n<h2>Mengembalikan Hak untuk Tetap Berada<\/h2>\n<p>Dalam kisah Ava dan Pepper, pertolongan sering datang dari orang yang mau melihat mereka sebagai anak: memberi makan, menyediakan tempat tidur, mendengarkan, atau memastikan mereka tidak berjalan sendirian menuju bahaya. Kebaikan semacam itu tidak cukup menggantikan tanggung jawab negara, tetapi menunjukkan prinsip dasar perlindungan: anak harus lebih dahulu dipulihkan rasa amannya sebelum diminta mengikuti nasihat, aturan, atau program perbaikan diri.<\/p>\n<p>Kasus Intan menuntut prinsip yang sama. Sekolah harus memiliki mekanisme pencegahan dan penanganan perundungan yang bekerja sebelum korban terpaksa menghilang. Guru perlu membedakan candaan dari kekerasan, mencatat laporan secara serius, melibatkan keluarga tanpa menyalahkan korban, dan memastikan pelaku tidak memperoleh ruang untuk mengulangi tindakan. Anak yang sudah putus sekolah juga berhak mendapat jalan kembali yang tidak mempermalukannya.<\/p>\n<p>Yang harus diperbaiki bukan tubuh anak agar sesuai dengan selera lingkungan, melainkan lingkungan agar mampu menerima keberagaman tubuh. Negara boleh mengurus kesehatan. Sekolah boleh membantu anak membangun kebiasaan yang baik. Namun, keduanya tidak berhak mengubah kondisi tubuh menjadi hukuman sosial.<\/p>\n<p>Anak tidak kehilangan hak bersekolah hanya karena tubuhnya berbeda. Dan ketika seorang anak pergi karena sekolah gagal membuatnya aman, yang seharusnya merasa gagal bukan anak itu.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/www.detik.com\/sumut\/berita\/d-8654253\/kisah-pilu-remaja-bogor-putus-sekolah-gegara-obesitas-dan-jadi-korban-bully\" rel=\"nofollow\">detik.com: Kisah Pilu Remaja Bogor Putus Sekolah Gegara Obesitas Dan Jadi Korban Bully<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.detik.com\/tag\/obesitas-anak\" rel=\"nofollow\">detik.com: Obesitas Anak<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/adaapa.my.id\/kisah-pilu-remaja-di-bogor-yang-dihantui-bullying-hingga-terpaksa-putus-sekolah-karena-obesitas-soro\/\" rel=\"nofollow\">adaapa.my.id: Kisah Pilu Remaja Di Bogor Yang Dihantui Bullying Hingga Terpaksa Putus Sekolah Karena Obesitas Soro<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/blog.stkippgribl.ac.id\/kisah-pilu-remaja-di-bogor-yang-dibully-putus-sekolah-akibat-obesitas-mengungkap-tantangan-kesehatan\/\" rel=\"nofollow\">blog.stkippgribl.ac.id: Kisah Pilu Remaja Di Bogor Yang Dibully Putus Sekolah Akibat Obesitas Mengungkap Tantangan Kesehatan<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow\">Buku Di Tanah Lada \u2014 Gramedia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebuah tubuh anak dapat menjadi alasan orang dewasa membuka layanan kesehatan. Namun, tubuh yang sama juga dapat dijadikan bahan ejekan, tanda kegagalan, bahkan alasan diam-diam untuk mengeluarkan seorang anak dari ruang pendidikan. Di situlah kisah remaja asal Bogor bernama Intan Permatasari menjadi penting. Ia dilaporkan berhenti sekolah pada usia 12 tahun setelah mengalami perundungan berkepanjangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-153","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=153"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/153\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}