{"id":138,"date":"2026-10-04T05:46:29","date_gmt":"2026-10-04T05:46:29","guid":{"rendered":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=138"},"modified":"2026-10-04T05:46:29","modified_gmt":"2026-10-04T05:46:29","slug":"layanan-boleh-berganti-nama-pendampingan-anak-disabilitas-tidak-boleh-terputus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=138","title":{"rendered":"Layanan Boleh Berganti Nama, Pendampingan Anak Disabilitas Tidak Boleh Terputus"},"content":{"rendered":"<p>Layanan Boleh Berganti Nama, Pendampingan Anak Disabilitas Tidak Boleh Terputus<\/p>\n<p>Perubahan kelembagaan sering terdengar seperti urusan meja birokrasi: unit dihapus, fungsi dipindahkan, kewenangan dibagi, lalu pemerintah menyatakan pelayanan tetap berjalan. Namun bagi anak dan keluarganya, perubahan itu tidak pernah sesederhana perubahan bagan organisasi. Ia bisa berarti berpindah ruangan, mengganti petugas, mengulang asesmen, mencari rujukan baru, atau menghadapi ketidakpastian tentang apakah terapi yang selama ini gratis masih dapat diakses.<\/p>\n<p>Persoalan itu muncul dalam penataan ulang Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif atau PLDPI di Solo. Pemerintah Kota Surakarta menyatakan kelembagaan UPTD PLDPI berubah secara struktural mulai 1 Oktober 2026. Pemerintah menegaskan bahwa layanan bagi anak berkebutuhan khusus tidak dihentikan, melainkan ditata agar fungsi pendidikan berada di bawah Dinas Pendidikan, sementara terapi medis dikembalikan kepada fasilitas kesehatan. (<a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/video\/5747751\/pemkot-solo-ubah-struktur-pldpi-layanan-disabilitas-tetap-berjalan?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">antaranews.com<\/a>)<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut penting, tetapi belum cukup. Ukuran keberhasilan penataan bukan terletak pada apakah nama PLDPI masih dipakai, melainkan apakah anak tetap memperoleh layanan yang sama, dengan mutu, jadwal, tenaga, biaya, dan hubungan pendampingan yang tidak terputus.<\/p>\n<h2>Dalam kehidupan anak, kesinambungan lebih penting daripada nama lembaga<\/h2>\n<p>Dalam <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> berjudul \u2018Di Tanah Lada\u2019, Ava dan Pepper hidup di tengah orang dewasa yang sering hadir secara tidak utuh. Ada orang yang menyayangi mereka, tetapi tidak tahu cara menjaga. Ada yang ingin menolong, tetapi datang terlambat. Ada pula yang mengetahui kebenaran, tetapi menahannya karena takut menghadapi akibatnya. Bagi anak, niat baik tidak otomatis berubah menjadi perlindungan. Perlindungan baru terasa ketika seseorang hadir secara konsisten dan dapat diperkirakan.<\/p>\n<p>Di sinilah perubahan PLDPI perlu dibaca secara kritis. Pemerintah Solo menjelaskan bahwa layanan pendidikan, pedagogi, terapi perilaku, dan penyiapan kemandirian akan ditarik ke dalam struktur Dinas Pendidikan. Terapi medis seperti terapi wicara, okupasi, dan fisioterapi akan berada dalam ranah Dinas Kesehatan. Secara hukum dan kewenangan, pemisahan itu dapat dipahami. Dinas Pendidikan memang bukan fasilitas kesehatan. Namun, anak tidak mengalami hidupnya dalam kotak-kotak kewenangan. Satu anak dapat memerlukan terapi wicara, okupasi, fisioterapi, dukungan perilaku, asesmen, dan pendampingan keluarga sekaligus. (<a href=\"https:\/\/rri.co.id\/surakarta\/regional\/2732302\/pldpi-dihapus-disdik-solo-jamin-layanan-pendidikan-abk-tetap-berjalan?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">rri.co.id<\/a>)<\/p>\n<p>Hubungan pertama dengan kisah Ava dan Pepper terletak di sini: anak membutuhkan kesinambungan, bukan sekadar keberadaan aktor yang berbeda. Ava tidak selamat karena banyak orang dewasa terlibat secara terpisah. Ia selamat karena ada orang-orang yang perlahan membangun kepercayaan, memahami ketakutannya, dan tetap hadir setelah keadaan darurat berlalu. Begitu pula layanan disabilitas. Anak tidak cukup diberi daftar instansi yang harus didatangi. Ia membutuhkan sistem yang membuat perpindahan kewenangan tidak terasa sebagai kehilangan pendamping.<\/p>\n<h2>Pemisahan kewenangan jangan berubah menjadi pemisahan pengalaman anak<\/h2>\n<p>Pemerintah Solo menyatakan layanan akan tetap berjalan dan bahkan dioptimalkan. Salah satu skema yang dipertimbangkan adalah menghadirkan tenaga kesehatan dari rumah sakit ke lokasi PLDPI, sehingga keluarga tidak harus berpindah-pindah tempat. Layanan disebut tetap tersedia hingga Desember 2026 sambil menunggu skema baru. (<a href=\"https:\/\/radarsolo.jawapos.com\/amp\/pendidikan\/2609170051\/buntut-penghapusan-pldpi-solo-struktur-kelembagaan-otomatis-berubah-jadi-fungsional?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">radarsolo.jawapos.com<\/a>)<\/p>\n<p>Gagasan mempertahankan layanan dalam satu tempat patut dihargai karena menjawab persoalan praktis yang sering dilupakan oleh desain kelembagaan. Akan tetapi, status \u201ctetap di satu tempat\u201d belum otomatis berarti layanan terintegrasi. Integrasi membutuhkan rekam layanan yang tersambung, jadwal yang jelas, petugas yang saling berkomunikasi, mekanisme rujukan, serta seseorang yang bertanggung jawab ketika terjadi masalah.<\/p>\n<p>Hubungan kedua dengan <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> ini adalah kesinambungan sejarah antara keputusan orang dewasa dan akibat yang ditanggung anak. Dalam kehidupan Ava dan Pepper, uang, rumah, perceraian, judi, pekerjaan, dan hukum tidak pernah berdiri sendiri. Semua keputusan itu menjalar ke tubuh anak: tempat tidur berubah, sekolah menjadi tidak pasti, rasa aman runtuh, dan masa depan harus ditebak dari percakapan orang dewasa. Penataan layanan juga bekerja dengan cara serupa. Ketika kewenangan dipisah tanpa penghubung yang kuat, konsekuensinya tidak berhenti pada struktur organisasi. Anak bisa kehilangan jadwal terapi, orang tua mengulang cerita, atau keluarga yang tidak mampu membayar layanan swasta terpaksa menghentikan perawatan.<\/p>\n<p>Karena itu, pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka: siapa yang menyusun rencana layanan individual anak, siapa yang mengawasi kehadiran terapis, siapa yang menerima keluhan, dan apa yang terjadi bila fasilitas kesehatan belum siap. Keluarga tidak boleh diminta menunggu sampai Desember untuk mengetahui apakah layanan setelahnya masih gratis dan tersedia.<\/p>\n<h2>Janji \u201ctetap berjalan\u201d harus dibuktikan dengan hak yang tetap terasa<\/h2>\n<p>Kekhawatiran orang tua bukan dugaan yang muncul dari ruang kosong. Pemberitaan mengenai perubahan PLDPI mencatat bahwa keluarga khawatir terapi yang selama ini gratis menjadi sulit diakses jika dialihkan ke rumah sakit. Salah satu wali murid menyebut anaknya membutuhkan terapi okupasi, terapi wicara, dan terapi perilaku secara rutin. Pengelola juga menyatakan bahwa layanan idealnya berlangsung setidaknya tiga bulan agar hasilnya dapat terlihat. (<a href=\"https:\/\/radarsolo.jawapos.com\/amp\/pendidikan\/2609150053\/pldpi-dihapus-orang-tua-abk-cemas-tidak-mendapat-layani-terapi-gratis?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">radarsolo.jawapos.com<\/a>)<\/p>\n<p>Angka-angka itu memperlihatkan bahwa kesinambungan bukan istilah abstrak. Terapi memiliki waktu, ritme, dan hubungan yang tidak dapat dipulihkan begitu saja setelah terputus. Anak yang sedang membangun kemampuan berbicara, bergerak, mengatur sensori, atau beradaptasi dengan lingkungan memerlukan pengulangan. Keluarga pun membutuhkan arahan agar latihan tidak berhenti di ruang terapi, tetapi dapat diteruskan di rumah.<\/p>\n<p>Di dalam cerita, orang dewasa sering mengira bahwa anak cukup diberi jawaban. Padahal, Ava tidak hanya membutuhkan arti kata \u201chukum\u201d, \u201ccerai\u201d, atau \u201ckebenaran\u201d. Ia membutuhkan seseorang yang membantu menghubungkan kata-kata itu dengan pengalaman hidupnya. Begitu pula anak disabilitas. Mereka tidak hanya membutuhkan diagnosis, jadwal, dan prosedur. Mereka membutuhkan layanan yang memahami keseluruhan hidupnya, termasuk keluarga, sekolah, kemampuan berkomunikasi, kelelahan, dan rasa takut.<\/p>\n<p>Hubungan ketiga dengan <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> ini adalah pertentangan antara janji perlindungan dan pengalaman nyata. Pemerintah boleh menyatakan layanan tetap ada, tetapi keluarga akan menilai janji itu melalui hal-hal yang sangat konkret: apakah terapi tetap gratis, apakah tenaga tersedia, apakah asesmen tidak diulang tanpa alasan, apakah orang tua tahu harus menghubungi siapa, dan apakah anak tetap bertemu pendamping yang mengenalnya.<\/p>\n<h2>Restrukturisasi harus meninggalkan jejak tanggung jawab<\/h2>\n<p>DPRD Solo telah mengingatkan bahwa PLDPI menjadi rujukan warga, termasuk dari luar daerah, dan meminta agar perubahan tidak sekadar memindahkan layanan. Yang harus dipastikan adalah akses, jadwal, ketersediaan tenaga terapis, serta biaya yang tetap terjangkau. (<a href=\"https:\/\/radarsolo.jawapos.com\/amp\/solo\/2609160057\/pldpi-dihapus-dprd-solo-minta-dikaji-lagi?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">radarsolo.jawapos.com<\/a>)<\/p>\n<p>Itulah inti persoalannya. Lembaga boleh berganti nama. Struktur boleh disesuaikan dengan aturan. Namun, negara tidak boleh menjadikan anak sebagai pihak yang harus memahami seluruh kerumitan perubahan tersebut. Anak dan keluarga justru berhak menerima penjelasan yang sederhana, jadwal yang pasti, pendamping yang jelas, serta jaminan bahwa satu perubahan administrasi tidak menghapus perjalanan layanan yang telah mereka bangun.<\/p>\n<p>Ava dan Pepper mengajarkan bahwa keselamatan tidak lahir dari satu tindakan heroik. Ia tumbuh dari kehadiran yang berulang: seseorang yang menunggu, mendengar, mengantar, menjawab, dan kembali ketika dibutuhkan. Begitu pula layanan disabilitas. Penataan kelembagaan baru dapat disebut berhasil jika anak tidak merasa sedang dipindahkan dari satu meja ke meja lain, melainkan tetap berada dalam satu rangkaian perlindungan yang mengenali dirinya.<\/p>\n<p>Yang harus dipertahankan bukan sekadar PLDPI sebagai nama, melainkan ingatan sistem terhadap setiap anak yang pernah dilayaninya. Tanpa itu, restrukturisasi hanya akan menjadi cara halus untuk membuat keluarga memulai perjuangan dari awal.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/video\/5747751\/pemkot-solo-ubah-struktur-pldpi-layanan-disabilitas-tetap-berjalan\" rel=\"nofollow\">ANTARA News: Pemkot Solo Ubah Struktur Pldpi Layanan Disabilitas Tetap Berjalan<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/rri.co.id\/surakarta\/regional\/2732302\/pldpi-dihapus-disdik-solo-jamin-layanan-pendidikan-abk-tetap-berjalan\" rel=\"nofollow\">RRI: Pldpi Dihapus Disdik Solo Jamin Layanan Pendidikan Abk Tetap Berjalan<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/radarsolo.jawapos.com\/amp\/pendidikan\/2609170051\/buntut-penghapusan-pldpi-solo-struktur-kelembagaan-otomatis-berubah-jadi-fungsional\" rel=\"nofollow\">radarsolo.jawapos.com: Buntut Penghapusan Pldpi Solo Struktur Kelembagaan Otomatis Berubah Jadi Fungsional<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/radarsolo.jawapos.com\/solo\/2609200036\/pldpi-ditata-ulang-wali-kota-respati-tegaskan-pelayanan-tetap-jalan\" rel=\"nofollow\">radarsolo.jawapos.com: Pldpi Ditata Ulang Wali Kota Respati Tegaskan Pelayanan Tetap Jalan<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow\">Buku Di Tanah Lada \u2014 Gramedia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Layanan Boleh Berganti Nama, Pendampingan Anak Disabilitas Tidak Boleh Terputus Perubahan kelembagaan sering terdengar seperti urusan meja birokrasi: unit dihapus, fungsi dipindahkan, kewenangan dibagi, lalu pemerintah menyatakan pelayanan tetap berjalan. Namun bagi anak dan keluarganya, perubahan itu tidak pernah sesederhana perubahan bagan organisasi. Ia bisa berarti berpindah ruangan, mengganti petugas, mengulang asesmen, mencari rujukan baru, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-138","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/138","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=138"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/138\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=138"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=138"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=138"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}