{"id":122,"date":"2026-10-03T07:31:02","date_gmt":"2026-10-03T07:31:02","guid":{"rendered":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=122"},"modified":"2026-10-03T07:31:02","modified_gmt":"2026-10-03T07:31:02","slug":"masuk-paud-tanpa-ujian-anak-tidak-harus-membaca-dulu-untuk-diakui-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=122","title":{"rendered":"Masuk PAUD Tanpa Ujian: Anak Tidak Harus Membaca Dulu untuk Diakui Negara"},"content":{"rendered":"<h2>Gerbang pertama pendidikan tidak boleh menjadi ruang penghakiman<\/h2>\n<p>Seorang anak tidak memasuki pendidikan dengan membawa kemampuan yang seragam. Ada yang cepat mengenali huruf, ada yang lebih dahulu memahami suara, gerak, warna, hubungan sosial, atau pola benda di sekitarnya. Karena itu, keputusan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk melarang tes membaca, menulis, dan berhitung sebagai syarat penerimaan PAUD tahun ajaran 2026\/2027 patut dibaca sebagai koreksi terhadap kebiasaan lama: menjadikan kemampuan yang belum berkembang sama rata sebagai alasan untuk menyaring anak. Dalam kebijakan SPMB Ramah 2026, proses penerimaan PAUD ditegaskan harus transparan, inklusif, dan berkeadilan, bukan bertumpu pada tes akademik calistung. (<a href=\"https:\/\/paudpedia.kemendikdasmen.go.id\/berita\/kemendikdasmen-larang-tes-calistung-dalam-spmb-ramah-2026-tegaskan-prinsip-transparansi-inklusif-dan-berkeadilan?do=MzA4Ni00MjUzY2ZiMw&amp;ix=MTEtNzcxNmRkNmE&amp;utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">paudpedia.kemendikdasmen.go.id<\/a>)<\/p>\n<p>Kebijakan itu bukan berarti membaca, menulis, dan berhitung tidak penting. Justru karena keterampilan tersebut penting, anak perlu mendapat kesempatan mempelajarinya tanpa terlebih dahulu dipermalukan atau ditolak karena belum menguasainya. Pendidikan seharusnya menjadi tempat untuk bertumbuh, bukan panggung tempat anak diminta membuktikan bahwa ia sudah selesai tumbuh.<\/p>\n<p>Dalam <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> berjudul \u2018Di Tanah Lada\u2019, Ava memperlihatkan betapa tidak lurusnya cara seorang anak memahami dunia. Ia dapat mengingat istilah yang rumit, menyusun kesimpulan dari benda-benda sederhana, dan mencari arti kata melalui kamus. Namun, ia bisa tersandung pada kata yang bagi orang dewasa tampak mudah. Ia memahami \u201ctruth\u201d sebagai kebenaran, tetapi harus mencari jalan berliku untuk menemukan kata \u201ckebenaran\u201d dalam bahasa Indonesia. Ia keliru membedakan \u201ccerai\u201d dan \u201cserai\u201d, bukan karena tidak cerdas, melainkan karena pengalaman dan bahasa tidak selalu datang dalam urutan yang sama.<\/p>\n<p>Di sinilah hubungan pertama antara pengalaman Ava dan kebijakan baru itu menjadi jelas. Anak tidak dapat direduksi menjadi hasil satu pertemuan, satu lembar soal, atau satu kemampuan yang diuji pada waktu tertentu. Jika Ava dinilai hanya dari kata yang tidak berhasil ia temukan, orang dewasa mungkin akan menyimpulkan bahwa ia kurang siap. Padahal, cara berpikirnya justru menunjukkan daya nalar, ingatan, dan keingintahuan yang kuat.<\/p>\n<h2>Larangan tes harus mengubah cara sekolah melihat kesiapan<\/h2>\n<p>Larangan calistung akan kehilangan makna apabila sekolah hanya mengganti ujian tertulis dengan bentuk penyaringan yang lebih halus. Anak mungkin tidak lagi diminta membaca keras-keras, tetapi tetap diamati dari kemampuan mengikuti instruksi orang dewasa, cara berbicara, pakaian, asal sekolah, atau perilaku orang tua. Karena itu, persoalannya bukan hanya menghapus jenis tes tertentu. Persoalannya adalah mengubah pengertian tentang kesiapan.<\/p>\n<p>Kesiapan anak bukan sekadar kemampuan menampilkan pengetahuan dengan cepat. Ia juga mencakup rasa aman, kemampuan berinteraksi, kesempatan bermain, kondisi kesehatan, dukungan keluarga, serta pengalaman menggunakan bahasa. Anak yang gugup di hadapan orang asing belum tentu tidak mampu belajar. Anak yang tidak mau menjawab pertanyaan belum tentu tidak memahami. Anak yang belum dapat menulis namanya belum tentu tidak memiliki rasa ingin tahu.<\/p>\n<p>Bagian lain dari kisah Ava dan Pepper memperlihatkan bagaimana orang dewasa berkali-kali berbicara atas nama anak tanpa benar-benar memahami isi pikirannya. Mereka menentukan tempat tinggal, hubungan keluarga, nama, dan masa depan, sementara anak harus bekerja keras menerjemahkan keputusan tersebut melalui kamus dan percakapan. Hubungan kedua dengan kebijakan SPMB terletak di sini: penerimaan yang ramah bukan hanya penerimaan tanpa tes, melainkan penerimaan yang memberi anak kesempatan hadir sebagai subjek, bukan objek yang harus segera dikategorikan.<\/p>\n<p>Dalam praktik yang baik, sekolah dapat mengenali calon murid melalui kegiatan yang tidak menghakimi: bermain, berinteraksi, mengenal lingkungan, dan berbicara dengan keluarga. Pemerintah sendiri telah menampilkan praktik SPMB ramah yang menggantikan tes membaca atau berhitung dengan kegiatan bermain dan pengenalan lingkungan sekolah. (<a href=\"https:\/\/internal-portal.kemdikbud.go.id\/siaran-pers\/15690-praktik-spmb-ramah-bagi-murid-paud-ciptakan-rasa-nyaman-saat-anak-belajar-lewat-dunia-bermain?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">internal-portal.kemdikbud.go.id<\/a>) Cara semacam itu lebih dekat dengan dunia anak karena memungkinkan guru melihat kebutuhan dan minat tanpa memaksa anak tampil seperti peserta ujian.<\/p>\n<h2>Ketika ujian dihapus, jangan biarkan ketimpangan mencari pintu lain<\/h2>\n<p>Namun, menghapus tes calistung belum otomatis membuat pendidikan adil. Anak masih bisa tersaring oleh hal-hal yang tidak tertulis dalam formulir: biaya seragam, uang kegiatan, jarak rumah, keterbatasan transportasi, ketersediaan kelas, fasilitas sekolah, atau tuntutan orang tua agar anak segera tampak \u201cmaju\u201d. Larangan ujian formal harus diikuti pengawasan terhadap pungutan, informasi penerimaan, kapasitas sekolah, serta akses bagi anak dengan disabilitas dan keluarga yang hidup dalam keterbatasan.<\/p>\n<p>Kekhawatiran itu berhubungan dengan benang merah lain dalam cerita. Di Rusun Nero, keselamatan dan masa depan anak selalu dipengaruhi oleh uang, tempat tinggal, pekerjaan orang dewasa, serta kemampuan seseorang menyediakan ruang aman. Rumah bukan sekadar alamat; ia menentukan apakah anak dapat tidur, belajar, makan, dan berbicara tanpa rasa takut. Demikian pula sekolah. Pintu masuk yang tidak memakai tes tetap belum cukup jika anak tidak mampu mencapai pintu tersebut atau diterima dalam kondisi yang membuatnya terus merasa tertinggal.<\/p>\n<p>Karena itu, hubungan ketiga dengan kebijakan SPMB bersifat kritis: larangan calistung adalah langkah penting, tetapi tidak boleh diperlakukan sebagai bukti bahwa persoalan keadilan telah selesai. Negara perlu memastikan sekolah tidak menggunakan reputasi, kemampuan ekonomi, atau tekanan sosial sebagai ujian pengganti. Pemerintah daerah juga harus menyediakan informasi yang sederhana, terbuka, dan mudah diakses agar keluarga tidak bergantung pada kabar dari kelompok yang lebih berdaya.<\/p>\n<h2>Anak berhak belajar sebelum diminta membuktikan diri<\/h2>\n<p>Kebijakan SPMB Ramah 2026 seharusnya dibaca sebagai perubahan cara pandang. Anak tidak datang ke PAUD untuk membuktikan bahwa ia sudah pantas belajar. Ia datang karena memang berhak belajar. Tugas sekolah adalah membantu perkembangan itu, bukan mengukur nilai seorang anak sebelum proses pendidikan dimulai.<\/p>\n<p>Kamus Ava berkali-kali membantunya memahami kata, tetapi pengetahuan tidak selalu segera menyelesaikan kenyataan. Ia sendiri menyadari bahwa kebenaran lebih sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari daripada di halaman kamus. Pendidikan juga demikian. Aturan yang baik dapat ditemukan dalam dokumen, tetapi keadilannya baru tampak ketika seorang anak yang belum bisa membaca, menulis, atau berhitung tetap diterima dengan hormat, didampingi dengan sabar, dan diberi kesempatan berkembang.<\/p>\n<p>Maka, larangan tes calistung tidak boleh berhenti sebagai pengumuman administratif. Ia harus menjadi janji bahwa gerbang pertama pendidikan tidak akan lagi mengubah perbedaan perkembangan menjadi vonis. Anak tidak harus membaca dulu agar didengar. Ia tidak harus menulis dulu agar dianggap mampu. Ia tidak harus berhitung dulu agar diakui sebagai calon manusia yang berharga.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/paudpedia.kemendikdasmen.go.id\/berita\/kemendikdasmen-larang-tes-calistung-dalam-spmb-ramah-2026-tegaskan-prinsip-transparansi-inklusif-dan-berkeadilan?do=MzA4Ni00MjUzY2ZiMw&amp;ix=MTEtNzcxNmRkNmE\" rel=\"nofollow\">paudpedia.kemendikdasmen.go.id: Kemendikdasmen Larang Tes Calistung Dalam Spmb Ramah 2026 Tegaskan Prinsip Transparansi Inklusif Dan Berkeadilan<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5576673\/kemendikdasmen-spmb-sd-tidak-boleh-tes-calistung\" rel=\"nofollow\">ANTARA News: Kemendikdasmen Spmb Sd Tidak Boleh Tes Calistung<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/spmb.kotabogor.go.id\/jenjang-sd\/pertanyaan-umum?kategoriFaq=7&amp;page=1\" rel=\"nofollow\">spmb.kotabogor.go.id: Pertanyaan Umum<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/internal-portal.kemdikbud.go.id\/siaran-pers\/15690-praktik-spmb-ramah-bagi-murid-paud-ciptakan-rasa-nyaman-saat-anak-belajar-lewat-dunia-bermain\" rel=\"nofollow\">internal-portal.kemdikbud.go.id: Praktik Spmb Ramah Bagi Murid Paud Ciptakan Rasa Nyaman Saat Anak Belajar Lewat Dunia Bermain<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow\">Buku Di Tanah Lada \u2014 Gramedia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gerbang pertama pendidikan tidak boleh menjadi ruang penghakiman Seorang anak tidak memasuki pendidikan dengan membawa kemampuan yang seragam. Ada yang cepat mengenali huruf, ada yang lebih dahulu memahami suara, gerak, warna, hubungan sosial, atau pola benda di sekitarnya. Karena itu, keputusan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk melarang tes membaca, menulis, dan berhitung sebagai syarat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-122","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/122","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=122"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/122\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=122"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=122"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=122"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}