{"id":117,"date":"2026-10-02T14:46:04","date_gmt":"2026-10-02T14:46:04","guid":{"rendered":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=117"},"modified":"2026-10-02T14:46:04","modified_gmt":"2026-10-02T14:46:04","slug":"rasa-ingin-tahu-bukan-bahan-baku-generasi-emas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=117","title":{"rendered":"Rasa Ingin Tahu Bukan Bahan Baku Generasi Emas"},"content":{"rendered":"<p>Rasa ingin tahu sering dipuji ketika ia menghasilkan sesuatu yang dapat dipamerkan: menara dari kardus, jawaban yang benar, robot sederhana, atau anak yang tampak siap menyongsong masa depan. Namun, sebelum menjadi keterampilan, rasa ingin tahu adalah hak anak untuk bertanya tanpa segera diminta membuktikan manfaatnya. Di titik inilah peluncuran Program STEM Nasional pada 3 September 2026 di PAUD Terpadu Kalirejo, Kabupaten Kudus, perlu dibaca secara lebih kritis. Program tersebut tidak hanya memperkenalkan sains, teknologi, enjinering, dan matematika sejak usia dini, tetapi juga memperlihatkan bagaimana negara memandang cara anak mengetahui dunia. (<a href=\"https:\/\/bpmpkepri.kemendikdasmen.go.id\/berita\/kemendikdasmen-luncurkan-program-stem-nasional-mulai-dari-paud-untuk-bangun-keberanian-mencoba?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">bpmpkepri.kemendikdasmen.go.id<\/a>)<\/p>\n<h2>STEM harus dimulai dari cara anak menemukan dunia<\/h2>\n<p>Dalam <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> berjudul \u2018Di Tanah Lada\u2019, Ava tidak memasuki dunia melalui pelajaran yang sudah tertata. Ia memahaminya lewat kamus, benda-benda di sekitarnya, percakapan yang terpotong, dan kesimpulan yang kadang keliru tetapi selalu berusaha jujur. Ia bertanya mengapa tombol lampu berada di tempat tertentu, mencoba memahami arti \u201chukum\u201d, \u201ccerai\u201d, \u201ckebenaran\u201d, atau \u201changat\u201d, lalu menghubungkan kata-kata itu dengan pengalaman yang sedang dihadapinya.<\/p>\n<p>Cara Ava belajar penting karena menunjukkan bahwa pengetahuan anak tidak bermula dari jawaban orang dewasa. Pengetahuan bermula dari keganjilan: sesuatu yang belum dipahami, tetapi terasa dekat dan mendesak. Ketika Ava menyimpulkan letak tombol lampu dari pengalaman di kamarnya sendiri, ia sedang melakukan hal yang menjadi inti pembelajaran ilmiah: mengamati, membandingkan, membuat dugaan, lalu mengujinya.<\/p>\n<p>Program STEM Nasional menyatakan bahwa kegiatan belajar dapat dimulai dari persoalan nyata di sekitar anak. Pemerintah menekankan prinsip 5M\u2014mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful\u2014serta menolak anggapan bahwa STEM selalu membutuhkan laboratorium canggih atau alat mahal. Dengan demikian, program ini memiliki titik temu yang kuat dengan cara Ava memahami dunia: bukan melalui abstraksi yang dijauhkan dari kehidupan, melainkan melalui benda, gerak, perubahan, dan pertanyaan yang muncul dari pengalaman konkret. (<a href=\"https:\/\/gurudikdas.kemendikdasmen.go.id\/news\/kemendikdasmen-luncurkan-program-stem-nasional-tepis-stigma-mahal-melalui-prinsip-5m?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">gurudikdas.kemendikdasmen.go.id<\/a>)<\/p>\n<p>Tetapi hubungan itu baru akan berarti jika guru tidak buru-buru mengambil alih proses berpikir anak. Anak yang bertanya tidak selalu membutuhkan jawaban segera. Kadang ia membutuhkan waktu untuk memegang, mengamati, salah menebak, lalu mencoba lagi. Jika setiap kegiatan STEM berakhir pada produk yang harus seragam, rasa ingin tahu akan kembali dijinakkan menjadi tugas.<\/p>\n<h2>Keberanian mencoba bukan perlombaan menuju prestasi<\/h2>\n<p>Tagline program tersebut, \u201cBerani Mencoba, Kreatif Mencipta\u201d, terdengar menjanjikan karena menempatkan percobaan dan kreativitas sebagai bagian dari belajar. Namun, keberanian mencoba akan kehilangan makna jika sejak awal anak dibebani harapan untuk menjadi penemu, juara, atau tenaga unggul bagi agenda pembangunan.<\/p>\n<p>Pepper dalam karya tersebut memberi peringatan dari arah yang berbeda. Ia kerap menjadi objek pembicaraan orang dewasa: tentang keluarganya, sekolahnya, masa depannya, bahkan tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas hidupnya. Ia bukan tidak memiliki keinginan. Justru sebaliknya, ia ingin memiliki nama, tempat tidur, sekolah, dan seseorang yang dapat dipercaya. Akan tetapi, keinginannya mudah tertutup oleh rencana orang dewasa yang merasa paling tahu.<\/p>\n<p>Di sinilah narasi Generasi Emas perlu diawasi. Anak memang berhak memperoleh pendidikan sains yang baik. Namun, mereka tidak boleh diperlakukan sebagai bahan mentah yang harus segera diolah agar sesuai kebutuhan ekonomi masa depan. STEM seharusnya membantu anak memperluas pertanyaan tentang dunia, bukan mengurangi hidup mereka menjadi daftar kompetensi.<\/p>\n<p>Pernyataan pemerintah bahwa STEM bukan sekadar hafalan rumus dan harus mendorong anak menemukan solusi merupakan arah yang tepat. Akan tetapi, ukuran keberhasilan tidak boleh hanya berupa jumlah guru yang dilatih, proyek yang dibuat, atau kemampuan anak menghasilkan benda. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah anak masih boleh berkata \u201caku tidak tahu\u201d, apakah ia boleh mengganti dugaan, dan apakah kegagalan diperlakukan sebagai bagian dari proses, bukan sebagai kekurangan diri. (<a href=\"https:\/\/www.kemendikdasmen.go.id\/siaran-pers\/16129-sinergi-ekosistem-pendidikan-menyiapkan-kompetensi-guru-terapkan-stem-yang-mudah-dan-sederhana?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">kemendikdasmen.go.id<\/a>)<\/p>\n<h2>Benda sederhana, pengalaman nyata, dan ketimpangan fasilitas<\/h2>\n<p>Pengalaman Ava dan Pepper juga mengingatkan bahwa dunia belajar anak tidak selalu hadir dalam ruang yang bersih, luas, dan ideal. Mereka tumbuh di Rusun Nero, berhadapan dengan kamar yang sempit, lingkungan yang tidak nyaman, perjalanan panjang, makanan sederhana, dan benda-benda yang harus dipakai sesuai keadaan. Namun, justru dari ruang itulah mereka membaca dunia.<\/p>\n<p>Karena itu, gagasan bahwa STEM dapat dilakukan dengan kardus, sedotan, galon bekas, atau benda di sekitar anak patut diapresiasi. Pendekatan tersebut dapat membongkar stigma bahwa sains hanya milik sekolah yang memiliki perangkat mahal. Berita tentang peluncuran program juga menekankan bahwa kegiatan STEM dapat dibangun dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. (<a href=\"https:\/\/gurudikdas.kemendikdasmen.go.id\/news\/kemendikdasmen-luncurkan-program-stem-nasional-tepis-stigma-mahal-melalui-prinsip-5m?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">gurudikdas.kemendikdasmen.go.id<\/a>)<\/p>\n<p>Namun, prinsip murah tidak boleh berubah menjadi pembenaran bagi ketimpangan. Anak di daerah dengan ruang belajar terbatas tetap berhak memperoleh guru yang terlatih, bahan yang aman, waktu belajar yang cukup, dan lingkungan yang mendukung. Meminta anak berkreasi dari benda seadanya bukan alasan untuk membiarkan sekolah berjalan tanpa fasilitas dasar.<\/p>\n<p>Lebih jauh, \u201cmudah\u201d juga tidak berarti menyederhanakan anak. Anak memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Seekor katak, genangan air, bayangan, atau benda yang jatuh dapat menjadi pintu masuk sains, tetapi maknanya akan berbeda menurut lingkungan dan kehidupan masing-masing. Guru perlu membaca perbedaan itu, bukan memaksa semua anak menghasilkan kesimpulan yang sama.<\/p>\n<h2>Negara harus menjaga hak anak untuk belum tahu<\/h2>\n<p>Di bagian akhir kisah, pencarian kebenaran tidak berhenti pada definisi. Ava memahami bahwa sesuatu dapat ditemukan di kamus, tetapi belum tentu mudah ditemukan dalam kehidupan nyata. Pelajaran itu relevan bagi STEM: metode yang baik tidak cukup jika anak tidak diberi ruang sosial untuk menguji, mempertanyakan, dan menyampaikan apa yang mereka lihat.<\/p>\n<p>Peluncuran Program STEM Nasional karena itu seharusnya dibaca sebagai janji pedagogis, bukan sekadar agenda inovasi. Negara perlu memastikan bahwa pelatihan guru, bahan ajar, dan evaluasi program benar-benar menjaga pengalaman anak. Jika tidak, bahasa tentang kreativitas hanya akan menjadi lapisan baru bagi kebiasaan lama: orang dewasa menentukan tujuan, anak mengikuti instruksi, lalu keberhasilan diukur dari hasil yang tampak.<\/p>\n<p>Rasa ingin tahu bukan bahan baku yang boleh dipanen sebelum anak sempat menikmati proses mencari tahu. Ia adalah cara anak mempertahankan hubungan dengan dunia. Tugas pendidikan bukan memaksa rasa itu segera menghasilkan masa depan, melainkan menjaganya tetap hidup\u2014agar anak dapat bertanya, mencoba, gagal, mengubah pikiran, dan suatu hari menemukan jawaban yang benar-benar ia pahami.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/bpmpkepri.kemendikdasmen.go.id\/berita\/kemendikdasmen-luncurkan-program-stem-nasional-mulai-dari-paud-untuk-bangun-keberanian-mencoba\" rel=\"nofollow\">bpmpkepri.kemendikdasmen.go.id: Kemendikdasmen Luncurkan Program Stem Nasional Mulai Dari Paud Untuk Bangun Keberanian Mencoba<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/gurudikdas.kemendikdasmen.go.id\/news\/kemendikdasmen-luncurkan-program-stem-nasional-tepis-stigma-mahal-melalui-prinsip-5m\" rel=\"nofollow\">gurudikdas.kemendikdasmen.go.id: Kemendikdasmen Luncurkan Program Stem Nasional Tepis Stigma Mahal Melalui Prinsip 5M<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.kemendikdasmen.go.id\/siaran-pers\/16129-sinergi-ekosistem-pendidikan-menyiapkan-kompetensi-guru-terapkan-stem-yang-mudah-dan-sederhana\" rel=\"nofollow\">kemendikdasmen.go.id: Sinergi Ekosistem Pendidikan Menyiapkan Kompetensi Guru Terapkan Stem Yang Mudah Dan Sederhana<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/pgtkpaudikmas.kemendikdasmen.go.id\/artikel\/berita\/memulai-keberanian-anak-melalui-stem\" rel=\"nofollow\">pgtkpaudikmas.kemendikdasmen.go.id: Memulai Keberanian Anak Melalui Stem<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow\">Buku Di Tanah Lada \u2014 Gramedia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rasa ingin tahu sering dipuji ketika ia menghasilkan sesuatu yang dapat dipamerkan: menara dari kardus, jawaban yang benar, robot sederhana, atau anak yang tampak siap menyongsong masa depan. Namun, sebelum menjadi keterampilan, rasa ingin tahu adalah hak anak untuk bertanya tanpa segera diminta membuktikan manfaatnya. Di titik inilah peluncuran Program STEM Nasional pada 3 September [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-117","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/117","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=117"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/117\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=117"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=117"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=117"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}