{"id":116,"date":"2026-10-02T13:16:40","date_gmt":"2026-10-02T13:16:40","guid":{"rendered":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=116"},"modified":"2026-10-02T13:16:40","modified_gmt":"2026-10-02T13:16:40","slug":"ketika-anak-menjadi-pengarang-negara-tak-boleh-hanya-menjadi-penonton","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/?p=116","title":{"rendered":"Ketika Anak Menjadi Pengarang, Negara Tak Boleh Hanya Menjadi Penonton"},"content":{"rendered":"<p>Anak sering dipuji ketika menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan. Gambar ditempel di dinding, cerita dicetak menjadi buku, lalu nama mereka disebut di panggung. Namun, pujian itu belum tentu berarti bahwa anak telah memperoleh kuasa atas ceritanya sendiri. Bisa saja karya tersebut hanya menjadi bukti bahwa sebuah lembaga telah berhasil menyelenggarakan program.<\/p>\n<p>Pertanyaan itulah yang perlu diajukan ketika Pameran Karya Raya 2026 berlangsung di Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 11 September\u20132 Oktober 2026. Pameran ini menampilkan 2.053 buku karya anak dan menghadirkan Karya Raya Corner sebagai ruang agar karya-karya itu tetap dapat dibaca setelah pameran berakhir. Acara puncaknya dijadwalkan pada 3 Oktober 2026. (<a href=\"https:\/\/karyaraya.bookabook.id\/karyaraya2026?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">karyaraya.bookabook.id<\/a>)<\/p>\n<p>Karya Raya penting bukan semata karena jumlah bukunya besar. Ia penting karena membawa gagasan bahwa perpustakaan tidak hanya menyimpan karya yang sudah selesai, tetapi juga dapat menjadi tempat cerita baru dilahirkan. Di titik inilah pengalaman Ava dan Pepper dalam <a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">buku<\/a> berjudul \u2018Di Tanah Lada\u2019 memberi ukuran yang lebih tajam: anak tidak hanya membutuhkan bahan bacaan, melainkan kesempatan untuk mencipta, menafsirkan, dan membuat orang lain mendengar dunia dari sudut pandangnya.<\/p>\n<h2>Dari membaca dunia menuju menulis diri sendiri<\/h2>\n<p>Ava memahami hidup dengan cara yang tidak biasa. Ia mencari arti kata di kamus, memeriksa hukum, menebak maksud orang dewasa, dan mencoba merangkai hubungan antara perceraian, uang, pekerjaan, keluarga, serta rasa takut. Kamus baginya bukan sekadar alat belajar. Ia adalah pegangan ketika dunia terlalu rumit dan orang dewasa tidak memberikan penjelasan yang memadai.<\/p>\n<p>Pepper memiliki jalan lain. Ia bermain gitar, menyanyi, menyimpan buku dari ibunya, dan mengembangkan gagasan tentang nama, identitas, kematian, serta hubungan antarmanusia. Musik menjadi cara untuk mengatakan sesuatu yang tidak selalu sanggup ia jelaskan secara langsung. Ketika ia berkata ingin menjadi pintar meskipun tidak bersekolah, yang tampak bukan kekurangan semata, melainkan hasrat untuk mengambil bagian dalam pengetahuan dan menciptakan masa depannya sendiri.<\/p>\n<p>Karya Raya menguji apakah institusi publik mampu menyediakan jalan bagi hasrat tersebut. Program ini mendorong anak usia 5\u201314 tahun menjadi penulis dan ilustrator, bukan sekadar pembaca atau penerima materi literasi. Perkembangannya juga menunjukkan skala yang semakin besar: dari 638 buku pada 2023 menjadi 2.053 buku pada 2026. (<a href=\"https:\/\/m.beritajakarta.id\/read\/155395\/pameran-karya-raya-2026-hadir-di-perpustakaan-jakarta?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">m.beritajakarta.id<\/a>)<\/p>\n<p>Hubungannya dengan kisah Ava dan Pepper bersifat analitis, bukan berarti karya tersebut meramalkan program ini. Namun, keduanya memperlihatkan hal yang sama: anak memerlukan medium untuk mengolah pengalaman menjadi makna. Bagi Ava, medium itu kamus dan pertanyaan. Bagi Pepper, medium itu gitar, lagu, dan buku. Bagi anak-anak dalam Karya Raya, medium itu dapat berupa buku, ilustrasi, komik, atau cerita yang mereka susun sendiri.<\/p>\n<h2>Dari objek yang didefinisikan menjadi pengarang yang diakui<\/h2>\n<p>Dalam hidup Ava dan Pepper, orang dewasa terlalu sering menjadi pihak yang menentukan siapa mereka. Nama Pepper tidak pernah benar-benar utuh. Ia dipanggil dengan julukan, seruan, atau makian, seolah-olah identitasnya dapat diganti sesuai kehendak orang yang lebih berkuasa. Ava pun harus memahami keluarganya melalui potongan percakapan orang dewasa. Mereka membicarakan uang, perceraian, pengasuhan, dan masa depan, sementara Ava menanggung akibatnya tanpa selalu diberi bahasa yang cukup.<\/p>\n<p>Di sini, kepengarangan anak bukan perkara teknis tentang apakah mereka mampu menulis dengan tata bahasa sempurna. Kepengarangan adalah pengakuan bahwa pengalaman anak memiliki pemilik. Anak berhak memilih apa yang hendak diceritakan, bagaimana menggambarkannya, dan kepada siapa cerita itu ditujukan.<\/p>\n<p>Pameran di perpustakaan dapat mengubah relasi tersebut. Anak yang biasanya dipandang sebagai objek pendidikan, penerima perlindungan, atau sasaran program tampil sebagai pencipta yang karyanya dibaca publik. Pemerintah DKI menyatakan Karya Raya ditujukan agar kesempatan berkarya dapat diakses anak dari berbagai latar sosial, termasuk sekolah negeri, komunitas rusun, dan anak-anak dari Nusa Tenggara Timur. (<a href=\"https:\/\/m.beritajakarta.id\/read\/155395\/pameran-karya-raya-2026-hadir-di-perpustakaan-jakarta?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">m.beritajakarta.id<\/a>)<\/p>\n<p>Tetapi pengakuan itu harus dijaga agar tidak berubah menjadi bentuk baru penguasaan orang dewasa. Ketika karya anak dipilih, disunting, diberi kategori, dipajang, lalu dinilai, selalu ada kemungkinan bahwa suara anak kembali disaring menurut selera institusi. Karena itu, ruang pamer tidak cukup hanya menampilkan nama dan karya. Anak perlu mengetahui bagaimana karyanya digunakan, siapa yang akan membacanya, apakah ia boleh memperbaiki atau menariknya, serta apakah pendapatnya dihargai setelah acara selesai.<\/p>\n<h2>Perpustakaan bukan panggung sesaat<\/h2>\n<p>Rusun Nero dalam kisah tersebut adalah ruang yang memperlihatkan ketimpangan secara kasatmata. Ada kamar yang tidak aman, kardus yang dijadikan tempat tidur, atap yang berbahaya, dan lorong yang membuat anak harus bergantung pada keberanian orang lain. Tempat tinggal itu bukan sekadar latar. Ia menentukan sejauh mana Ava dan Pepper dapat tidur, belajar, bermain, dan membayangkan hari esok.<\/p>\n<p>Perpustakaan menawarkan kebalikan dari pengalaman itu: ruang yang terbuka, terang, dan dapat mempertemukan anak dengan karya orang lain. Namun, sebuah ruang publik baru benar-benar membebaskan jika anak dapat kembali ke sana, merasa diterima, dan menemukan dukungan untuk mengembangkan apa yang telah ia mulai. Bila perpustakaan hanya ramai ketika pameran berlangsung, lalu kembali menjadi ruang yang tidak menyediakan pendampingan, akses, atau program lanjutan, maka anak hanya memperoleh satu hari sebagai pengarang.<\/p>\n<p>Karena itu, Karya Raya Corner perlu dipahami bukan sebagai etalase, melainkan janji kelembagaan. Karya anak harus terus dapat dibaca, dibicarakan, dan menjadi pintu bagi karya berikutnya. Perpustakaan Jakarta dan penyelenggara menyatakan bahwa karya-karya tersebut dapat terus ditemukan secara langsung maupun digital. (<a href=\"https:\/\/m.beritajakarta.id\/read\/155395\/pameran-karya-raya-2026-hadir-di-perpustakaan-jakarta?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">m.beritajakarta.id<\/a>) Janji itu harus diterjemahkan ke dalam katalog yang mudah diakses, kegiatan menulis berkelanjutan, pendampingan bagi anak dari keluarga kurang mampu, dan mekanisme yang memastikan karya tidak berhenti sebagai angka capaian.<\/p>\n<h2>Anak tidak butuh penonton yang bertepuk tangan<\/h2>\n<p>Di tengah kecerdasan artifisial yang dapat menghasilkan tulisan, gambar, dan musik dalam hitungan detik, nilai karya anak tidak terletak pada kesempurnaan hasilnya. Nilainya terletak pada proses ketika seorang anak memilih kata, mengingat pengalaman, mengubah ketakutan menjadi cerita, atau menemukan bentuk untuk sesuatu yang belum sanggup ia ucapkan. Penyelenggara Karya Raya sendiri menekankan pentingnya kemampuan anak untuk berpikir kritis, membuat pilihan, dan menciptakan sesuatu yang bermakna di tengah perkembangan teknologi. (<a href=\"https:\/\/m.beritajakarta.id\/read\/155395\/pameran-karya-raya-2026-hadir-di-perpustakaan-jakarta?utm_source=openai\" rel=\"nofollow noopener noreferrer\">m.beritajakarta.id<\/a>)<\/p>\n<p>Itulah sebabnya negara tidak boleh puas menjadi penonton yang hadir saat pembukaan, memberi penghargaan, lalu berfoto di depan rak buku. Negara harus memastikan bahwa anak memiliki akses yang adil terhadap alat, ruang, waktu, pendampingan, dan hak untuk menentukan cerita.<\/p>\n<p>Ava dan Pepper mengingatkan bahwa seorang anak dapat menemukan dunia melalui kamus, gitar, buku, atau percakapan sederhana. Tugas ruang publik bukan menggantikan suara mereka dengan bahasa orang dewasa, melainkan menyediakan tempat agar suara itu tumbuh, didengar, dan tidak dirampas. Jika perpustakaan mampu melakukan hal tersebut, karya anak bukan lagi dekorasi program. Ia menjadi bukti bahwa anak telah diakui sebagai pengarang kehidupan publiknya sendiri.<\/p>\n<h2>Sumber<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5736269\/pemprov-dki-jadikan-perpustakaan-ruang-anak-berkarya\" rel=\"nofollow\">ANTARA News: Pemprov Dki Jadikan Perpustakaan Ruang Anak Berkarya<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/20.detik.com\/detikupdate\/20260911-260911049\/video-weekend-mending-ke-sini-ada-pameran-2-000-buku-karya-anak-di-tim\" rel=\"nofollow\">20.detik.com: Video Weekend Mending Ke Sini Ada Pameran 2 000 Buku Karya Anak Di Tim<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/dispusip.jakarta.go.id\/cikini\/publications\/news\" rel=\"nofollow\">dispusip.jakarta.go.id<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.antarafoto.com\/id\/view\/2861467\/pameran-buku-anak-karya-raya-2026\" rel=\"nofollow\">antarafoto.com: Pameran Buku Anak Karya Raya 2026<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/di-tanah-lada-2\" rel=\"nofollow\">Buku Di Tanah Lada \u2014 Gramedia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak sering dipuji ketika menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan. Gambar ditempel di dinding, cerita dicetak menjadi buku, lalu nama mereka disebut di panggung. Namun, pujian itu belum tentu berarti bahwa anak telah memperoleh kuasa atas ceritanya sendiri. Bisa saja karya tersebut hanya menjadi bukti bahwa sebuah lembaga telah berhasil menyelenggarakan program. Pertanyaan itulah yang perlu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-116","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/116","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=116"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/116\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lada.siapasangka.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}